Iklan
My Journal

Pagelaran Seni Tari Reok Ponorogo PSTK ITB

Sang raja yang ingin membuat sayembara

Sebagai founder dari Arsanesia yang notabene memiliki concern yang tinggi terhadap kebudayaan di Indonesia, saya sangat ingin menonton pagelaran kebudayaan di Indonesia. Beruntung di ITB banyak sekali unit kebudayaan dari berbagai wilayah di Indonesia yang rajin melakukan pagelaran atau kegiatan kesenian budaya. Sudah lama saya ingin menonton pagelaran tersebut, namun ada aja kendala yang membuat saya mengurungkan niat tersebut. Sampai akhirnya, saya diajak Dea untuk menonton pentas dari Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK) ITB hari Minggu tanggal 22 April yang lalu. Pada pertunjukan ini, Fina (adiknya Dea) akan tampil juga, saya jadi semakin semangat untuk datang. Bahkan hari Sabtunya (21 April) saya di Jakarta untuk mengurus eKTP, nonton konser DT, dan nonton el clasico (madrid menang 2-1 :D), Minggunya saya langsung meluncur ke Bandung untuk menyaksikan dan mendokumentasikan pentas tersebut (thanks to dera buat pinjeman kameranya 😉 ).

Pagelaran yang mengangkat legenda Reok Ponorogo ini berlokasi di Dago Tea House, Bandung. Lokasi ini dipilih agar bisa lebih dekat dengan masyarakat (kalau di kampus terkesan tertutup). Saya yang baru pertama kali menonton pertunjukan kebudayaan dari unit di ITB pun antusias dan semangat untuk menyaksikan pagelaran ini. Saya dan Dea termasuk orang pertama yang tiba di lokasi. Begitu pintu dibuka, saya dan Dea langsung memilih tempat strategis (di depan tengah) dan langsung ngetag tempat untuk keluarganya Dea yang datang juga. Tak lama, munculah para pemain karawitan menuju tempatnya bermain dan masuklah MC. MC pertama bicara dengan bahasa Jawa -__-“, waduh, walaupun saya kecil di Jogja, rasanya sulit mencerna kata-kata MC tersebut. Namun ternyata MC partnernya menerjemahkan bahasa jawa tersebut 😀 Akhirnya dimulailah pagelaran tersebut.

Cerita Reok Ponorogo sendiri (yang saya tangkap) kurang lebih menceritakan ada seorang putri kerajaan yang mendapatkan ilham atau mimpi tentang calon suaminya. Suaminya harus mampu memberikan seserahan 144 ekor kuda, hewan berkepala 2, dan pertunjukan yang belum pernah ditampilkan sebelumnya. Akhirnya sang raja mengadakan sayembara untuk mencari calon suami tersebut. Sayembara tersebut di dengar oleh seorang pangeran A (gak inget namanya siapa hehehe) dan pangeran B. Tentu pangeran A itu yang baik dan pangeran B itu yang jahat (dan sudah punya dua istri). Pangeran A hanya kurang hewan berkepala dua saja (duh maap klo salah tangkep, tapi kayaknya itu. Ato jangan2 udah lengkap tinggal datengin si putri yah? hehehe) sedangkan yang pangeran B masih kurang 1 kuda lagi, masih belum ada hewan kepala dua, dan pertunjukan unik. Akhirnya si pangeran B yang jahat berusaha merebut seserahan pangeran A. Di tengah-tengah pertempuran, si pangeran B (yg selalu ditemani oleh burung merak di pundaknya) bertempur dengna pangeran A. Pangeran A punya pecut sakti yang akhirnya membuat pangeran B bersatu dengan sang merak dan berubah jadi reok itu. Alhasil, Pangeran A menyerahkan semua seserahan dan menikah dengan sang putri.

Cambuk sakti dan reok ponorogo

Kalau saya googling-googling, memang banyak versi sih dari cerita itu. Tapi yang membuat pagelaran PSTK ini menarik adalah tweak-tweak yang dimasukan ke dalam cerita sehingga bisa dinikmati dengan mudah oleh kalangan awam seperti saya. Nonton pentas tari ini seperti nonton komedi, berkali-kali saya dan penonton di lokasi yang dibuat tertawa ngakak oleh aksi temen-temen PSTK yang kreatif ini. Beberapa yang paling kena buat saya adalah adegan pangeran B yang mengabsen prajuritnya tentang status seserahan untuk sang putri. Tiga prajuritnya itu ngocol dan sangat lucu maksimal. Kuda kurang satu biji, hewan kepala 2 manggil penonton dan disuruh kayang (jadi kepalanya ada dua, yang depan dan belakang :p), dan pertunjukan yang belum pernah ditunjukan sebelumnya malah nyanyi iwak peyek -__-. hahaha… Lalu adegan yang saya ingat juga adegan pertarungan yang sangat lucu. Ada tiga adegan pertarungan yang melekat di pikiran saya, yaitu ketika ada orang berperilaku kayak hewan-hewan gak jelas, terus pas pertarungan kayak di mortal kombat (ada ready fightnya, terus gerakan2nya mirip banget ama di game), dan ketika ada jurus rahasia yang membangkitkan mayat. hehehehe..

Adegan kayang yang di luar dugaan

Adegan pertarungan yang lucu ala mortal kombat

Acara seperti ini sangat penting untuk membangkitkan semangat kebudayaan dan nasionalisme kita, menjaga warisan budaya, dan melestarikan nilai-nilai luhur. Apalagi dengan kemasan seperti ini, rasanya anak-anak muda (yang mulai menjauhi kebudayaannya sendiri) akan bisa terhibur dan mencintai kebudayaan sendiri. Nampaknya ini harus dijadikan program wajib bagi anak-anak arsanesia, setiap ada pentas kebudayaan di Bandung, wajib hukumnya untuk hadir. Lumayan bisa menambah wawasan, semangat, dan mencari inspirasi. Keep up the good work yah PSTK ITB, ditunggu pagelaran berikutnya. Buat unit-unit budaya yang lain juga jangan mau kalah ya 😀 Lets bring back legend to live

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: