Iklan
My Journal

Waktu Optimum untuk Bekerja

gambar diambil dari http://www.freelanceapple.com

Selama di ITB, saya sering mendapatkan tugas besar. Bentuk tugas besarnya biasanya membuat program, membuat dokumen analisis, dan sejenisnya. Biasa saya mengerjakan tugas-tugas tersebut di malam hingga pagi hari. Selain karena masalah tidak ada waktu lain untuk mengerjakan, saya pribadi merasa waktu optimum untuk saya ada di antara jam 12 sampai jam 3 pagi. Di range waktu tersebut, entah kenapa kok pikiran lebih plong dan lebih semangat ngerjain tugas. Suasana yang sepi, tenang, dan tidak ada distraksi dari social media (karena sudah pada tidur) membuat semua aktivitas bisa berjalan lebih lancar dibanding jam lainnya. Nah, konsekuensi logis dari jam optimum tersebut adalah bergesernya jam tidur (baru tidur habis subuh biasanya). Tentu hal ini merupakan penyimpangan dari aktivitas biologis manusia pada umumnya. Pertanyaan terbesarnya adalah, bagaimana nanti kalau sudah bekerja? Apakah tidak bisa lagi bekerja di waktu optimum?

Kalau di Arsanesia, setelah ada kantor, sekitar seminggu-dua minggu pertama saya mencoba untuk masuk pagi. Tapi ketika deadline sudah banyak, dibutuhkan konsentrasi dan effort yang cukup tinggi, ternyata banyak juga yang merasa optimal pengerjaannya di malam hari. Akhirnya beberapa minggu ke belakang saya dan teman-teman di Arsanesia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor pada malam hari, pulang di pagi hari, dan ke kantor lagi siang atau sore harinya. Terkadang beberapa dari kita ada yang harus beraktivitas (entah itu kuliah atau kegiatan lainnya) di pagi hari sehingga mungkin muka kita terlihat pucat dan mata berkantong. Teman saya ada yang memberikan istilah kepada kami sebagai zombie (katanya Arsanesia ternak zombie :p), karena harus berzombi ria di depan laptop hingga tak kenal waktu dan bermuka zombie di pagi hari. hehehe… Klo kata saya sih seharusnya lebih tepat disebut vampire. Soalnya kan vampire beraktifitas di malam hari dan baru tidur pas matahari terbit, hehehe.. Tapi balik lagi, ini kebetulan saja kita memiliki waktu optimum dimana otak berasa paling encer yang sama, yaitu di malam hari. Mungkin untuk beberapa orang tidak demikian. Yang pasti konsekuensi dari jam optimum malam hari adalah akan sulit mengimbangi ritme kehidupan orang-orang pada umumnya.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

2 Comments on Waktu Optimum untuk Bekerja

  1. Gw selalu ngerasa ini artikel terbaik yang ngejelasin kenapa developer suka kerja malem2: http://paulgraham.com/makersschedule.html

    On another note, kalo lagi deadline gw kerja kapan aja gak pandang bulu itu pagi/siang/malem. Kerjanya cman ngoding-tidur-ngoding ~.~

    Suka

  2. Ak stuju adam..krn jam msk kerja ak adlh jam11/12siang pulang jam9/10mlm, kdg2 pulg jam12mlm..dan itu dprotes krn tdk baik utk kshtn..tp tetap saja ak msh kerja dkantor itu, tnp mengabaikan kesehatan..ak bc bbrp tulisan kamu..ok bgt, spt Yάnƍ tjd sm ak..

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. [Book] Improve Your Time Management: Belajar Untuk Mahir Mengelola Waktu – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: