Iklan
My Journal

Filosofi Pendidikan Di Turki

Beberapa hari kebelakang, saya berkesempatan untuk berbicara dengan seorang pendidik yang bekerja di sebuah sekolah kerja sama Turki-Indonesia di daerah Bandung. Semula saya berbincang mengenai sistem teknologi dan informasi di sekolah tersebut yang terbilang canggih dan mewah. Namun pembicaran semakin lama semakin berbelok dan menjadi lebih menarik lagi. Guru tersebut menceritakan tentang pendidikan yang sesungguhnya.

Di Turki, seorang guru memiliki nilai prestisius setinggi seorang dokter. Untuk menjadi guru dibutuhkan nilai yang tinggi dan seleksi yang ketat. Menjadi guru juga sudah tentu memiliki gaji yang tinggi sekali di Turki. Namun guru-guru lulusan mereka lahir ke masyarakat sebagai seorang pendidik, bukan seorang tenaga pengajar. Seorang pendidik bertanggung jawab terhadap tidak hanya nilai siswanya, tapi juga perkembangan psikologis, mental, emosi, akhlak, kreatifitas, dan masih banyak lagi. Beliau menyempatkan malam Selasa untuk mengundang beberapa siswanya menginap di rumahnya, menggunakan malam Kamisnya untuk berkunjung ke rumah orang tua siswa, menggunakan malam Jumat untuk bermain bersama siswa-siswanya. Bagi beliau, orang tua berperan sama pentingnya dalam mendidik anak selayaknya guru dan masyarakat. Oleh karena itu sudah kewajiban beliau untuk bekerja sama dengan orang tua siswa untuk mendidik anak.

Hal serupa pernah terjadi di Indonesia sekitar tahun 70an ke belakang. Dimana guru adalah juga seorang pendidik, masyarakat dan rumah tangga juga masih melaksanakan fungsinya sebagai agen pendidik anak. Namun seiring berkembangnya waktu, orang tua semakin sibuk dengan kegiatannya sendiri dan menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada guru. Di samping itu, gaji guru semakin rendah di era serba sulit seperti sekarang ini sehingga mereka tidak lagi mampu untuk menjalankan perannya sebagai pendidik karena untuk hidup saja mereka susah. Apalagi masyarakat kita yang sekarang ini sudah mengalami terjun bebas dalam hal penegakan moral dan etika. Wajar jika Indonesia tidak akan bisa maju apabila kondisi tersebut terus larut dan tenggelam. Seharusnya pendidikan menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa. Minimal kesejahteraan guru dan prasarana sekolah dimaksimalkan untuk mengatasi situasi sosial yang saat ini sudah hancur berantakan dan rendahnya kepedulian orang tua untuk turut serta mendidik anaknya. Masih ada harapan bagi kemajuan Indonesia di balik genggaman tangan generasi muda yang butuh asupan ilmu dan benteng integritas yang tinggi.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: