My Journal

Balas Dendam Terhadap Penyiksaan Deadline dan UAS

Hari-hari setelah penghujung semester 4 ketika fisik saya dikerdili oleh rangkaian tubes dan juga pikiran saya dilucuti oleh UAS yang datang bertubi-tubi, rasa kesal menumpuk hingga ingin sekali membalas perbuatan mereka kepada jiwa dan raga saya. Akhirnya bersama sahabat senasib sepenanggungan, kami merancang rencana balas dendam yang super keji kepada makhluk-makhluk yang menggerogoti kami. Awalnya diagendakan tepat setelah semua UAS dan deadline berakhir, kami akan menyerbu dunia penuh fantasi. Namun berkat mulut saya yang membocorkan cerita “seru” di dunia yang penuh fantasi tersebut, alhasil kami beralih menuju taman untuk bersafari.

Dengan jumlah personil tujuh prajurit, kami menyewa kendaraan tempur kami sebuah Ampibvi (disingkat APV). Sebuah kendaraan berbadan besar namun bermesin kucil. Tiga jam perjalanan kami dituntun oleh GPS dari xperia hingga tiba di lokasi. Ketika masuk ke gerbang safari, sekonyong-konyong jiwa liar dan kehutanan dari personil-personil di kendaraan kami muncul. Melihat gajah yang ngajak berantem (nunjuk-nunjuk gak sopan ke kami), zebra yang gabut (kerjaannya neduh doang), beruang madu yang letoy (-__-“), perdebatan mengenai fakta p***il kera, dan banyak lagi kejadian yang sangat hutan di sana.

.

Keluar dari zona safari, kami berniat mencari makan. Cukup bodoh karena kami tidak bawa makan dari markas besar, akibatnya ketika masuk ke suatu restoran, tanpa berlama-lama kami keluar lagi dari tempat tersebut. Harga sebuah nasi goreng termurah saja sudah di atas 35rb. Mau jadi apa dompet-dompet melongo para prajurit seadanya ini. Kemudian kami mencari tempat makan yang sedikit lebih layak.Β  Puas makan, kami berkeliling memantau tempat kami bisa bercanda dengan singat laut, harimau sumatera, lumba-lumba, dan lain-lain sekalian memastikan jadwal tayang mereka. Setelah berkeliling, kami masuk ke baby zoo dengan objektif utama berfoto bersama hewan-hewan yang sudah jinak. Setelah melewati kawasan penuh dengan burung yang eksotis, tibalah kami di tempat foto. Saya pun langsung mencari bayi singa dan berfoto bersama bayi singa yang nakal. Beberapa kali tangannya (ato kaki lebih tepatnya) menyakar udara. Tapi memeluk bayi singa tersebut merupakan sensasi sendiri (selama ini cuma punya bonekanya). Sementara itu, teman-teman yang lain berfoto dengan bapak harimau, dan bayi harimau sumatera yang manja (dan ngantuk sepertinya). Setelah itu saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan rangga (simpanse yang sangat lucu).

Setelah puas berfoto, kami menuju pertunjukan singa laut yang ternyata sedang tidak tampil. Kemudian kami beralih ke pertunjukan harimau sumatera. Namun tampaknya teman-teman saya lebih fokus memperhatikan pawangnya yang berbadan kekar atau yang berwajah cantik daripada atraksi harimau tersebut. Setelah itu baru kami ke tempat lumba-lumba. Lumba-lumba ternyata sangat pintar dan lucu. Ramah pula dengan manusia. Tidak ada satupun dari kami yang melewatkan kesempatan dicium oleh lumba-lumba.

Hingga hari semakin larut, dendam terpuaskan, kami pun segera menuju ke Bandung kembali.

About Adam Ardisasmita (1243 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Vice President Asosiasi Game Indonesia | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: