Iklan
My Journal

Saya Putih, Saya Tidak Memilih, Dan Saya Tidak Peduli

Berbicara mengenai pemilihan umum memang tidak ada habisnya. Wajar saja jika saya melihat teman-teman saya yang sudah habis kesabarannya. Matanya memerah tiap kali melihat iklan kampanye di televisi. Baliho-baliho yang berisikan muka-muka manis para calon presiden dan calon legislatif memancing mereka untuk segera mengeluarkan pedangnya dari sarungnya kemudian mencabik-cabik poster yang penuh dengan harapan dan janji tersebut. Perjalanan tebar pesona ke daerah-daerah membuat teman-teman saya kalut dan mulai merakit bom untuk meledakannya di panggung menawan para artis pemerintahan. Satu hal yang saya tangkap dari perilaku ini, mereka sudah muak dengan politik di Indonesia.

Sedikit menganalisis fenomena ini, saya menganggap tindakan teman-teman saya adalah hal yang wajar. Mereka merasa terkhianati tiap kali memberikan suaranya untuk orang-orang yang memberikan janji. Alhasil terciptalah rasa apatis yang mengakar di sela-sela otaknya. Hatinya sudah mengecil dan membatu tiap kali disodorkan harapan oleh sang pembawa perubahan. Mereka memilih memotong jari mereka daripada mencelupkannya ke tinta ungu dan kembali menyaksikan parodi di pemerintahan. Mereka memilih menjadi golongan suci yang tidak mau tangannya kotor dan harus mempertanggung jawabkan kriminal yang naik tahta. Itulah golongan putih. Golongan yang ingin menghukum orang-orang yang telah mempermainkan perasaan rakyatnya.

Memilih ataupun tidak memilih adalah hak tiap orang. Janganlah kita sibuk memperdebatkan hak asasi ini. Buat apa kita berpayah-payah menentang perbedaan ini. Marilah kita memperjuangkan satu hal yang sama-sama sangat kita inginkan bersama. Yang diinginkan oleh golongan putih dan yang memilih wakil rakyat. Yaitu INDONESIA YANG LEBIH BAIK. Mari kita sama-sama bergandengan tangan memperbaiki kerusakan yang ada. Mari sama-sama kita masuk ke arena dan mencoba sekuat yang kita mampu, sebesar yang kita sanggup, sejauh yang kita dapat untuk menjadikan Indonesia yang kita impikan. Janganlah hai kalian teman-temanku yang sedang sakit hati dan menangisi negara ini berdiam diri di pojokan. Janganlah hai kalian teman-teman ku yang sudah jenuh hanya menonton TV dan membaca koran sembari bercaci-maki ria. Janganlah hai teman-teman ku yang menahan amarah membakar ban dan merusak pagar. Marilah kita bersama memberikan apa yang kita bisa kepada masyarakat. Ingat bahwasannya Indonesia dirusak selama ratusan tahun lebih oleh penjajah. Jadi butuh ratusan tahun pula untuk memerbaikinya. Bertahanlah dan terus berjuang.

Kita Warga Indonesia, Memilih ataupun tidak memilih, kita peduli dan akan terus berjuang!!!

gambar cantik dari http://mampus.files.wordpress.com

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

4 Comments on Saya Putih, Saya Tidak Memilih, Dan Saya Tidak Peduli

  1. harispratama // 10/03/2009 pukul 1:46 am // Balas

    haha gw baru aja memperdebatkan hal ini di forum diskusi organsasi jurnalistik kampus. memang ga sepenuhnya tentang hal ini sih.

    mungkin di sini gw ga akan menjabarkan secara detail, salah satu solusinya adalah mencabut subsidi kampanye dan segala macam bentuk pemberian uang yang berlebih. tujuannya? secara ekonomi, hal ini tentu menghemat pengeluaran negara. tujuan lainnya adalah untuk membuat para politikus yang memiliki motif uang bukan motif membela rakyat, mundur dengan sendirinya.

    maaf singkat gini. udah malem, ngantuk haha

    Suka

  2. hmmm… menarik juga tulisan ini. tapi sebenernya temen2 lo udah lumayan baik. baik disini adalah sudah mulai cari2 berita di media massa. dan pendapat gw, kalau kita ingun membuat indonesia yang lebih baik, yaa kita harus mencari tahu orang2 yg amanah juga untuk duduk dikursi legislatif. jadi kita tidak sekedar menghina dan mencerca calon2 yang sudah ada. ingat yin dan yang, di semua hal yg hitam pasti ada yg putih, dan disemua hal yang putih pasti ada yg hitam! itulah yang harus kita pikirkan sekarang! cara untuk menfilter orang2 amanah yang akan duduk di senayan! kita diberi kesempatan menfilter, tinggal bagaimana kita menfilter mereka! maaf kalau gw lebih condong untuk membuat memilih, karena menurut saya golput bukan solusi untuk menjadikan bangsa lebih baik, wuehehe

    salam kenal ya! adhamaski pangeran! temennya tito ^^
    kalau ada waktu kita ngobrol2 pemilu. dan kalau mau, bisa ikut satgas pemilu RI KM-ITB, oke?
    http://adhamaskipangeran.blogspot.com

    Suka

  3. emmghh… say no to Golput ah!
    bayangin,negara udah ngeluarin duit sebesar itu buat pemilu, yah… mau ga mau nyoblos aja. Tugas kita sekarang menimbang2 apa dan siapa yang layak dipilih…
    So far, tetep Golput???

    Suka

  4. Saya pribadi masih mempelajari calon-calon yang ada, mempelajari sistem pemilu dan politik di Indonesia, dan masih banyak yang harus dipelajari. Masih belum bisa memutuskan calon yang akan dipilih, namun bukan berarti sudah menetapkan untuk golput. Selama masih ada waktu untuk belajar dan mencari informasi, digunakan sebaik2nya agar tidak salah pilih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: