Iklan
My Journal

Hati-Hati Nasionalisme Buta

Jargon Untuk Mencintai Produk Dalam Negeri

Jargon Untuk Mencintai Produk Dalam Negeri

Kita sering mendengar jargon “Gunakanlah Produk Dalam Negeri” atau “Ayo Dukung Karya Anak Bangsa” sebagai suatu gerakan yang sangat lantang dan tegas. Awalnya, saya dengan modal cap “Karya Anak Bangsa” dengan semangat mendukung tanpa memandang bulu, namun ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan yakni sisi kualitas. Saya sepakat untuk mendukung karya, produk, jasa, inovasi, pemikiran, dan banyak lagi produk kreasi anak bangsa tapi saya tidak sepakat dengan dukungan tanpa pilah-pilih. Apalagi sebentar lagi era persaingan global, tidak bisa kita bertarung kalau hanya berlindung dibalik “cap karya anak bangsa” tanpa disandingi kualitas yang sebanding. Ada beberapa kasus yang ingin coba saya analisis tentang Nasionalisme Buta.

Wagub Jakarta kita, Bapak Ahok, belakangan dituding dengan title “Tidak Nasionalis.” Ada dua alasannya, yang pertama adalah kasus pemilihan Bis Transjakarta dan yang kedua kasus pembersihan Monumen Nasional. Pada kasus pengadaan Bus Transjakarta, Ahok memilih untuk membeli bus dengan standar setara merk Scania asal Swedia. Setelah uji coba Scania, dia mengatakan ketertarikannya untuk memiliki bus tersebut sebagai bus untuk Transjakarta. Dari kasus tersebut, ada yang menyebut Ahok tidak nasionalis karena memilih bus dari perusahaan luar. Kemudian kasus kedua terkait pembersihan monumen nasional. Ahok memilih Karcher dari Jerman untuk membersihkan Monas. Karcher adalah perusahaan yang sudah memiliki pengalaman membersihkan situs-situs berharga di dunia seperti  Basilita St. Petrus, Italia (1998), Gunung Rushmore, AS (2005) dan London Eye, Inggris (2013), dan lain-lain. Karcher juga pernah membersihkan monas di tahun 1992. Lalu keputusan ini dikritik oleh apklindo karena menyerahkan pekerjaan ini pada pihak asing. Ahok juga dinilai tidak nasionalis. 

Menanggapi kasus Bapak Ahok tersebut, beliau berkata bahwa itu Nasionalisme yang sempit. Beliau justru ingin memberikan yang paling baik di dunia untuk Jakarta. Dia memberikan bus paling aman dan nyaman untuk warga jakarta, membersihkan monumen nasional menggunakan jasa yang paling berpengalaman di dunia untuk membantu mempromosikan Jakarta. Semua itu dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk kepentingan kota Jakarta. Ahok juga menantang balik, kalau ada yang dari Indonesia yang sudah setaraf itu kualitasnya, pasti dikasih kok kerjaannya. Tapi pada kenyataannya belum ada yang mampu memberikan kualitas tersebut. Jadi beliau berpesan Nasionalisme itu jangan sempit. Kalau mau nasionalis seperti itu, jangan pakai mobil Jepang atau Amerika, bahkan gunting kuku aja belum ada tuh yang buatan Indonesia.

Tim Karcher membersihkan situs berharga

Tim Karcher membersihkan situs berharga *diambil dari web karcher.com*

Lalu saya ingin membahas ini dari sisi industri yang saya geluti yakni industri game. Awal mula saya merintis Arsanesia, saya sering kali membawa cap “Karya Anak Bangsa” agar game-game kami bisa sukses. Oke, itu memang awalnya membantu karena membuat orang-orang yang beraliran Nasionalisme Buta mengangkat karya kami. Tapi untuk bisa bersaing global, tidak ada apa-apanya. Akhirnya kami sadar bahwa kualitas itu nomer satu, cap itu baru layak kami letakan kalau kami sudah membuat game dengan kualitas dunia. Kalau belum, itu hanya akan malu-maluin Indonesia aja. Sekarang pun saya masih sering melihat banyak game developer yang mencoba untuk mengangkat karyanya dengan embel-embel “ayo dukung karya anak bangsa.” Tapi ketika saya lihat karyanya, isinya sebagian besar plagiat, karyanya tidak berkualitas, dan malah malu-maluin nama Indonesia. Saya pun mulai berhenti untuk menjalankan aksi “selama karya anak bangsa, yuk kita promosiin.”  Tapi kalau ada karya Indonesia yang juara, harus kita promote abis2an 🙂

Menurut saya, kita bisa mendukung karya anak bangsa itu dengan dua cara. Ketika karya tersebut sudah cocok untuk bersaing dengan dunia, kita bantu promosikan, kita gunakan karyanya, kita pamerkan kreasinya. Tapi ketika kita lihat karya tersebut belum layak menyandang cap tersebut, kita bisa tetap dukung dengan berikan feedback kepada mereka untuk berkembang, bantu mereka menyadari apa yang perlu ditambahkan dan dikoreksi, berikan mereka semangat dan bimbingan. Ketika kita melihat ada produk dalam negeri yang berkualitas, sudah sepantasnya kita lebih memilih menggunakan produk dalam negeri tersebut. Yang berbahaya adalah jika kita dengan buta mendukung semua yang memakai label “karya anak bangsa” tanpa melihat dulu kualitasnya. Jadi dengan dua cara tadi, kita bisa tetap mendukung produk dalam negeri. Itulah bentuk dukungan yang benar, bentuk Nasionalisme yang cerdas. Saya ingin mengquote kata-kata Pak Ahok tentang nasionalisme yang berbahaya.

Quote Pak Ahok - Wagub DKI

Quote Pak Ahok – Wagub DKI

Lalu terakhir untuk para pemilik karya dan kreator, prosesnya jangan terbalik. Kita bikin karya berkualitas dulu baru minta dipromote dengan cap “karya anak bangsa.” Jangan karyanya belum matang sudah minta dukungan. Tunjukin dulu kalau emang karya kita berkualitas, baru kita berani maju dengan label tersebut. Bahkan banyak sekali karya terbaik dari Indonesia yang terkenal di dunia dulu baru orang Indonesia sadar dan bangga akan karya tersebut. Itu akan lebih elegan dibanding kita mengemis rekognisi dengan label “karya anak bangsa.”

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

1 Comment on Hati-Hati Nasionalisme Buta

  1. Reblogged this on Nauf-vault and commented:
    Ini nih yang lagi anget-anget di kancah regional Jakarta, dan tentunya iklim gamedev Indonesia yang akhir-akhir ini ‘ikut’ berkontribusi untuk tanah air namun kualitasnya meragukan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: