Iklan
My Journal

[Supercoolkids] Memberikan Kasih Sayang Yang Bertanggung Jawab

Namanya punya anak, pasti senangnya bukan main. Apalagi anak pertama. Apalagi anak perempuan, mengingat saya bersaudara laki-laki semua. Hal itu membuat rasa sayang yang sangat besar kepada anak. Perjuangan yang terberat bukan di sisi memberikan kasih sayang terus menerus kepada anak, tapi bagaimana memberikan kasih sayang dengan tanggung jawab.

Minggu lalu, selesai mengisi seminar di Unikom, saya pulang ke Jakarta nebeng mobil teman saya. Kebetulan teman saya ini sudah punya anak dua, jadi sudah expert lah yah. Anak teman saya ini juga terkenal well behave dan lebih cerdas dibandingkan anak-anak seusia mereka. Di saat banyak orang tua yang selalu panik ketika jam makan siang tapi anak tidak mau makan, harus sambil diajak liat kucing lah, dibawa jalan kesana-sini, sambil main ipad, dan lain-lain, anaknya teman saya ini kalau jam makan ya bilang laper terus makan ya makan sendiri.

Kesempatan 3 jam perjalanan ini saya pakai untuk sesi “seminar singkat” mengenai parenting. Kunci dari 3 jam tersebut adalah menjadi orang tua harus bisa memberikan kasih sayang yang bertanggung jawab. Kita harus mempelajari betul ilmu tumbuh kembang anak agar tidak termakan budaya-budaya masa lalu yang dalam membesarkan anak, yang penting anak diem dan gak rewel. Berbagai tips dan trik dibagikan kepada saya.

Yang pertama adalah masalah ASI. Teman saya mewanti-wanti kalau masih bisa ASI, sebisa mungkin ASI. Dan kalau bisa ya ASInya langsung dari ibunya. Jangan pakai dot. Hal ini karena secara biologis insting bayi sudah dirancang untuk minum dari ibunya. Proses minum langsung dari ibunya akan melatih otot-otot mulutnya sehingga ketika nanti sudah waktunya bisa makan, dia akan langsung bisa makan dengan baik. Jika menggunakan dot, bayi akan jadi minum tanpa effort sehingga cenderung malas menggerakan otot mulutnya dan efeknya nanti jadi susah makan.

baca juga : [Supercoolkids] Minum Pakai Soft Cup Feeder

Terkait makan juga sama. Jam biologis manusia itu bisa diatur. Makan pagi, siang, dan malam. Ada metode namanya Baby Lead Weaning. Metode ini membuat kegiatan makan menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Teman saya ketika sudah 6 bulan, langsung memberikan makanan-makanan dalam bentuk potongan yang bisa digenggam dan langsung dimasukan ke mulut. Kadang dimakan, kadang diberantakin, kadang cuma diemut, tapi anak menikmati proses makan. Dengan dididik seperti ini, anak tidak trauma dengan makan. Kebanyakan anak trauma karena makan menjadi aktivitas yang “dipaksa.” Apalagi kalau dipaksa makanan yang tidak ada teksturnya seperti bubur.

Untungnya terkait dua hal itu, saya dan Dea sudah mempersiapkan diri. Untuk ASI sebisa mungkin langsung dari Dea. Kalau mau saya yang berikan pun menggunakan botol sendok, bukan dot, sehingga anak masih harus memberikan effort untuk bisa minum. Hal ini akan mempermudah transisi dia nanti ke minum dari gelas dan menjadi tidak ketergantungan dot.

Tapi ada satu nih yang saya masih belum bisa lepas yakni gendongan. Seperti yang paragraf pertama saya tulis, anak pertama ini membuat saya dan Dea sangat attach dengan anak. Nangis sedikit, pasti kita gendong. Gak bisa tidur, kita timang-timang sampai tertidur. Akibatnya sekarang jadi sangat ketergantungan gendong untuk bisa tidur. Seminggu ke belakang ini saya dan Dea mulai mengurangi intensitas menggendong Jenna. Awalnya tentu gak tega, tapi kita pakai proses mulai dikurangi sedikit-sedkit. Kalau di kasur sambil ditepuk-tepuk atau dinyanyiin. Pelan-pelan, lama-kelamaan dia ngerti kalau udah di kasur artinya udah saatnya dia tidur. Dan untuk tidur tidak perlu harus digendong. Tentu di awal kalau lagi nangis gak tega dong ngeliatnya. Tapi ini untuk kebaikan anak juga ke depan. Dan yang jelas, kita melakukan ini bukan tanpa dasar pengetahuan apa-apa. Do your research carefully.

baca juga : [Supercoolkids] Fase Begadang

Jadi memang benar yang menantang bukanlah bagaimana kita memberikan kasih sayang dan memenuhi semua kebutuhan anak, tapi kita memberikan kasih sayang dan memastikan apa yang kita berikan adalah yang terbaik untuk anak. Walaupun begitu, apakah metode yang bukan seperti di atas tadi salah? Bagi saya, yang paling mengerti kondisi anak adalah orang tuanya. Apapun keputusan orang tua, kita harus menghargainya karena mungkin ada kondisi tertentu yang membuat mereka memilih suatu metode. Tiap anak berbeda dan insting orang tua harus tajam untuk melihat kebutuhan yang terbaik bagi anak. Yang penting kita harus sadari saja impact dari keputusan atau tindakan yang kita lakukan kepada anak akan berlangsung jangka panjang. Pastikan kita memberikan yang terbaik untuk anak sesuai dengan kondisi kita dan anak.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. [Supercoolkids] Menggunakan Gendongan Baby Wrapper Pittari | Ardisaz
  2. [Supercoolkids] Milestone Dua Bulan | Ardisaz
  3. [Supercoolkids] Cerita Dari Sudut Pandang Berbeda – Ardisaz
  4. [Supercoolkids] Mulai Mengenalkan Metode Makan Baby Led Weaning – Ardisaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: