My Journal

[Supercoolday] Saling Mengenal Lewat Buku

Menemukan pasangan hidup memang bukan hal yang mudah. Terkadang ada yang tanpa sengaja bisa bertemu di waktu yang tak diduga, ada juga yang melalui berbagai usaha hingga akhirnya bisa saling bertemu. Ketika sudah bertemu pun, biasanya proses untuk saling berkenalan dan mengetahui prinsip hidup, karakter, dan kepribadian masing-masing juga bukanlah hal yang mudah.

Saya sendiri punya metode yang unik untuk bisa mengenal (dulu) calon istri saya. Jadi kebetulan saya dan istri satu SMA, lebih tepatnya Madrasah :p Momen kami kenalan karena kebetulan ada di satu kepanitiaan yang sama, saya jadi sekretaris 1 dan dia jadi sekretaris 2. Lalu dari situ kami mulai berinteraksi singkat.

Setelah kepanitiaan selesai, kami masih saling email dikala liburan karena sedang menyiapkan laporan pertanggung jawaban untuk kepanitiaan itu (tugas sekretaris biasanya untuk nyusun buku LPJ). Singkat cerita, dikala libur itu pun kami jadi sering berbalas email, sekedar cerita-cerita ringan saja. Entah kenapa kami sama-sama nyaman bisa ngobrol via email membahas banyak hal walaupun banyak banget ternyata sifat kami yang bertolak belakang.

Ketika mulai kembali ke sekolah, agak sulit nih buat bertukar email lagi. Wajar saja, di sekolah gak boleh bawa HP, komputer terbatas, dan ketemuan cewe dan cowo pun kalau gak ada kepentingan bukan hal yang mudah dilakukan di dalam lingkungan sekolah. Pernah sih saya dan istri waktu itu tetap saling bertukar kabar lewat email, menggunakan komputer di perpus atau kalau pas lagi jam pelajaran komputer numpang emal-emailan.

Lalu tiba-tiba, tercetus untuk bertukar cerita lewat buku. Jadi kami menggunakan sebuah buku yang tiap hari akan diisi bergantian, lalu kalau sudah selesai menulis dan bercerita, buku tersebut diberikan ke salah satu dari kami. Hampir tiap hari buku tersebut pindah tangan dari saya ke istri dan sebaliknya. Mulai dari kelas 2 SMA hingga lulus sepertinya kami masih terus bertukar buku. Terkadang proses pertukaran buku dimasukan di kolong mejanya di kelas, atau dititpkan ke teman sekelas untuk diberikan di asrama (jarang direct contant untuk tukeran buku ini).

Peran buku ini juga vital untuk menghilangkan penat dikala banyak kesibukan di sekolah. Kadang kami ngisi ini dini hari sambil belajar untuk mempersiapkan ujian, kadang ngisi lagi di kelas kalau pelajarannya lagi ngebosenin, kadang juga kalau lagi sabtu/mingu gak ada kerjaan di asrama ngisi buku ini. Udah gitu, kadang juga buku ini dipake buat numpang nyatet pelajaran sekolah atau coret-coretan lainnya.

Melihat buku tersebut, ternyata menarik sekali perkembangan yang terjadi dalam proses saling mengenal itu. Awalnya, kalau saya yang cerita, pasti tulisannya kecil-kecil dan biasanya penuh satu halaman. Kalau istri saya yang ngisi, biasanya tulisannya besar-besar dan cuma ngisi sedikit. Lalu setiap selesai cerita, di akhir tulisan selalu ditulis pertanyaan atau topik berikutnya yang mau dibahas. Nah ini cukup menarik karena topik-topik ini kadang random kayak lagu favorit hingga pernah kita diskusi tentang poligami :p Tapi di sinilah kami bisa saling memahami prinsip hidup masing-masing, visi, dan mimpi ke depannya.

Lalu yang menarik juga melihat bagaimana karakter kami yang saling bertolak belakang di awal ini bisa lama-lama menemukan titik tengah dan persamaan. Kemudian juga ada konflik-konflik gak penting yang kalau dilihat lagi kok remeh banget masalahnya :p Tapi ya namanya anak muda. Hehehe Yang lucu juga penggunaan panggilan yang di buku-buku seri pertama masih “Lu dan Gw” hingga di buku-buku pertengahan udah “Aku dan Kamu.” Gak tau yah penyebabnya apa.

Kalau definsi pacaran itu ada proses “nembak” dimana si cowo bilang ke cewe “mau gak kamu jadi pacar aku,” maka saya dan istri bisa dibilang tidak pernah pacaran. Kami berdua hanya intens bertukar pikiran dan cerita melalui buku ini saja selama masa-masa SMA. Lalu merasa cocok, dan ketika waktunya tiba, kami tidak menunda lagi untuk menikah karena memang sudah saling yakin satu sama lain. Dan bagi saya yang sangat hobi mendokumentasikan segala sesuatu, punya dokumentasi buku yang isinya percakapan dan rekaman kehidupan selama di SMA dan selama proses saling mengenal lewat buku ini merupakan sesuatu yang berharga. Banyak sekali kenangan dan kisah unik yang bisa kita lihat kembali.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1204 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

3 Comments on [Supercoolday] Saling Mengenal Lewat Buku

  1. Wah… saya salut deh sama Adam proses teman jadi istri. Dan ketekunan mengumpulkan buku catatan keren, gak semua orang bisa melakukannya. Cara taaruf begini terbaik menurut saya, karena saling mengenal sejak awal. Semoga tetap jadi keluarga samara.

    Suka

  2. cem buku harian weezy ya dam hahahahha. lucu ih ternyata lo berdua yaa 😀

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Pinisi – Sebuah Eksperimen Sosial | Cerita Tentang Data

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: