Iklan
My Journal

Paradigma dalam Menjalin Hubungan

Gambar diambil dari film UP

Sebenarnya saya sudah lama tidak menulis blog dengan kategori romansa, keseringan serius melulu isinya (bukan berarti topik ini tidak serius loh). Tapi saya akan mencoba sedikit berbagi cerita bagaimana kita menjalani hubungan yang baik. Kebetulan belakangan di sebuah stasion radio di Bandung ada kampanye tentang stop kekerasan dalam pacaran. Saya langsung berpikir, memang ada ya istilah kekerasan dalam pacaran? Segitunya kah sampe ada lebih dari 9000 kasus terjadi di tahun 2011 (itu baru yg dilaporkan, belum yg tidak dilaporkan). Sebetulnya saya tidak akan membahas tentang kekerasaan dalam pacaran, tapi bakal membahas sesuatu yang mungkin lebih mendasar yakni paradigma dalam suatu hubungan.

Yang pertama, saya menemukan sebuah quote yang menarik. Kurang lebih bunyinya seperti ini. ” Love is never about finding the hand that perfectly fits yours. It’s about finding that one person who is willing to hold hands no matter how unfit it may be”. Atau kalau dari film How I Met Your Mother, intinya dia bilang kalo kita nyari orang yang bener-bener sempurna, tidak akan pernah bisa kita temukan orang seperti itu. Banyak orang yang mengeluhkan karena dia kurang ini, dia kurang begitu, dia terlalu ini, dia terlalu begitu, dan rata-rata alasannya saya rasa kurang prinsipil. Kalau perbedaan yang mendasar seperti agama atau prinsip hidup, saya rasa wajar dijadikan pertimbangan namun kalau masalahnya terletak dari personaliti, kepribadian, atau tingkah laku, saya rasa kurang worth it untuk dipersoalkan. Dengan pola pikir seperti itu, kita bisa lebih fokus gimana untuk “make things work” daripada mengeluhkan “ketidaksempurnaan” karena kita tahu bahwa tidak ada yang sempurna.

Yang berikutnya adalah menjadi sosok yang supportif. Belum lama ini saya mengisi kuesioner tentang pasangan yang dibuat oleh teman saya untuk researchnya. Ada bagian dimana terdapat pertanyaan tentang bagaimana pasangan mendukung satu sama lain dalam melakukan kegiatan, secara emosional terutama. Yang saya rasakan, hubungan yang sehat tidak boleh “mematikan”. Yang dimaksud “mematikan” adalah membuat pasangan menjadi tidak bisa bebas berkreasi, beraktivitas, dan mengejar mimpinya. Ada beberapa pasangan yang saya tahu sangat posesif dan protektif sehingga mengganggu aktifitas tidak hanya salah satu dari pasangan tersebut, tapi mengganggu kehidupan mereka berdua. Private time untuk menikmati waktu berdua memang penting dan perlu, tapi proporsi dan posisinya harus diperhatikan dengan baik. Jangan sampai keinginan kita mengganggu keinginan pasangan, apalagi sampai “membunuh” aktivitasnya. Analoginya adalah dalam sebuah hubungan bukanlah dua orang yang berdiri berhadapan saling tatap, tapi dua orang yang sedang berjalan berdampingan bersama-sama, saling menyokong dan menyemangati. Paradigma untuk saling mendukung secara moril dan materil menjadi hal yang wajib dilakukan terhadap pasangan (selama masih berada di dalam koridor yang baik tentunya) jika ingin menjalani hubungan yang sehat.

Yang ketiga adalah paradigma yang cukup penting, yaitu tidak menghitung. Terkadang, kita sering mencoba menghitung atau membandingkan sikap satu dengan yang lain. Misalkan, saya kemaren digituin gak marah tapi kok dia saya gituin marah. Atau, saya kemaren nungguin dia lebih lama tapi saya membuat dia menunggu sebentar kok marah. Contoh lain, dia kemaren beliin saya hadiah cuma 1 saya biasa aja, tapi saya udah beliin 2 buat dia masih dirasa kurang. Hal-hal seperti itu yang harus dilatih untuk dihilangkan dari pikiran kita. Tanamkan paradigma bahwa tidak masalah berapapun besarnya yang dia korbankan atau kita korbankan, karena bukan itu yang diharapkan dari sebuah hubungan. Yang penting harus terus ikhlas, sabar, tetap tetap, dan mencoba mengerti apapun situasi dan kondisi yang terjadi. Klo otak kecil masih “mengeluh”, coba bayangkan betapa bahagianya dia kalau kita terus memberikan yang terbaik.

Mungkin itu tiga paradigma yang saya amati selama ini dari hubungan yang sudah berhasil atau masih bertahan dan juga dari hubungan yang sudah berakhir. Saya sendiri belum mampu menanamkan ketiga hal tersebut dan juga bukan ahlinya dalam bidang psikologi seperti ini. Namun nampaknya sejauh ini saya bisa belajar dan akan terus belajar untuk memperbaiki diri. Oh ya, postingan ini juga saya dedikasikan untuk teman-teman saya, ada yang baru merayakan hari jadinya, ada yang baru melewati masa-masa sulit, ada yang belum lama ini menikah, dan semua yang sedang berusaha membangun hubungan yang baik 🙂

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: