Iklan
My Journal

Bagaimana Saya, Dia, dan Perbedaan Saling Mengisi

Ada lirik lagu yang berbunyi “segala perbedaan itu, membuatmu jauh dari ku”. Benarkah perbedaan dapat membuat seseorang menjadi jauh dengan kita?

Dalam menjalani hubungan, tentu kita akan bertemu dengan perbedaan. Saya orang yang simpel dan fleksibel sedangkan dia sangat perfeksionis dan terstruktur. Saya senang berorganisasi, memimpin, dan menjadi pusat perhatian sedangkan dia senang bekerja dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Saya orangnya terbuka dan ekspresif sedangkan dia sangat tertutup dan jarang menunjukan perasaannya. Saya senang dengan kegiatan di alam terbuka sedangkan dia sangat membenci hal itu. Dan masih banyak lagi perbedaan antara saya dengan dia, bahkan sampai selera makan kita yang berbeda (saya tidak senang pedas sedangkan dia hobi makanan pedas). Jauh sebelum saya melangkah lebih jauh dalam hubungan kami, kami sudah menyadari perbedaan kami yang 180 derajat itu.

Perbedaan tersebut memang sesekali menjadi kerikil dalam hubungan kita, tidak jarang menggoyahkan kita. Namun seiring dengan berjalannya waktu, melalui proses-proses pendewasaan dan pembelajaran, saya menemukan bahwasannya sesungguhnya perbedaan tidak akan membuat kita jauh. Ternyata untuk menghadapi perbedaan bukanlah dengan menghindarinya, justru dengan menghadapinya. Diperlukan adaptasi yang intens terhadap karakter masing-masing, untuk itulah kedekatan kedua personil sangatlah dibutuhkan. Dari kedekatan itulah akan timbul rasa toleransi dan pengertian terhadap sesama. Sebagai salah satu contoh, pada awalnya saya merasa tidak cocok dengan salah satu sifatnya. Seperti jika ingin menentukan tempat atau membuat suatu acara, jarang dia berinisiatif untuk itu. Awalnya dibenak saya, saya berpikir, “kenapa sih dia tidak bisa seperti saya?”. Jika saya menyikapi hal tersebut dengan menjauhinya karena sikap itu, pasti perbedaan-perbedaan lainnya akan muncul satu persatu sebagai pemisah jarak antara kita. Namun dengan justru mendekatinya, mencoba membuka hati kita, dan memberikan toleransi kepadanya, saya semakin paham dan mengerti dia. Hingga akhirnya pikiran saya berubah menjadi “Justru karena dia tidak seperti saya, saya bisa memberikan hal tersebut untuk dia”.

Yang terpenting yang perlu diingat adalah, perbedaan tidak selamanya menjadi penghalang. Tapi perasaan sayang antara dua orang tersebut akan selamanya menjadi pengikat. Ingatlah selalu perasaan kita ketika perbedaan nampak menjadi seperti penghalang.

Iklan
About Adam Ardisasmita (1205 Articles)
CEO Arsanesia | Google Launchpad Mentor | Intel Innovator | Writer Dailysocial.id and Dicoding.com | Blogger ardisaz.com | Gagdet, Tech, and Community enthusiast.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: