Tag Archive | ditabrak

Kelanjutan Kasus Ditabrak dari Belakang


Bemper Mobil yang Penyok

Jadi setelah kemaren mobil saya ditabrak orang di jalan (lihat link ini), urusan saya dengan si Bapak itu masih belum selesai. Si Bapak masih berharap saya mengganti rugi kepada beliau. Hari Rabu habis di tabrak, si Bapak bilang kalau mau konsultasi ke sodaranya yang polisi dulu dan ngecek ke bengkel dulu hari kamis pagi. Kamis pagi si Bapak nelpon saya, bilang kalau kerugiannya sampai 1,7 juta. Si Bapak sudah konsultasi ke sodaranya dan katanya saya tidak salah, saya hanya korban. Yang salah adalah si mobil hitam yang ngerem mendadak (katanya dia). Si Bapak masih mengarahapkan saya untuk membayar ganti rugi, barang 500rb gitu. Alasannya adalah kerugian si Bapak besar dan mobil saya tidak kenapa2. Wah tentu saya tidak mau dong, ini bukan masalah siapa yang rugi paling besar, tapi siapa yang salah. Lalu saya memutuskan hari Sabtu kita ketemuan aja deh. Akhirnya saya melakukan pencarian mengenai hukum sebenernya. Saya dapat beberapa poin

  1. UU 22 thn 2009, pasal 229 (2): kecelakaan ringan adalah kecelakaan yang menyebabkan kerusakaan ringan, si pelaku dapat dihukum maksimal 6 bulan penjara dan/atau denda 1 juta rupiah
  2. UU 2009, tata cara berlalu lintas pasal 52: (ini kondisi jika jalan di kanan jalan atau mau membalap) harus menjaga ruang yang cukup untuk kendaraan lain
  3. Pasal 63 PP 43/93: Pengemudi diwaktu mengikuti/ berada di belakang kendaraan lain wajib menjaga jarak dengan kendaraan yang ada di depannya

Dengan dengan dasar hukum tersebut, saya sudah fix benar dan si bapak salah karena saya menjaga jarak dengan kendaraan di depan saya sehingga ketika ada rem mendadak saya tidak menabrak mobil di depan saya tapi si bapak itu tidak. Lalu bapak itu juga menabrak saya dan menyebabkan kecelakaan ringan. Secara pidana, saya sudah kuat hukum. Lalu jika dibawa ke kantor polisi dan diselesaikan secara kekeluargaan, ada beberapa opsi yang biasanya diambil:

  1. Mobil yang belakang mengganti yang di depannya (dan demikian seterusnya) jika terjadi kecelakaan beruntun. Artinya tetep si bapak yg harus mengganti saya
  2. Yang kerugiannya lebih kecil mengganti yang keriguannya lebih besar. Dalam hal ini kerugian saya lebih besar. Si bapak 1,7 saya bisa sampai 2,2 lebih.
  3. Mengganti kerusakan mobil sendiri-sendiri. Saya rasa ini paling adil jika tidak ada yang mau mengaku salah

Akhirnya hari Sabtu saya bertemu lagi dengan si Bapak (dan ditemani irul untuk menjadi saksi apabila si bapak melakukan hal yang tidak2). Lalu saya sudah meniatkan sebelumnya kalau saya ingin sedikit membantu si Bapak karena saya kasihan dengan kondisi si Bapak (yang mobilnya tidak di asuransi). Kalau si Bapak tidak puas dengan bantuan saya, tadinya saya langsung perkarakan saja ke meja hijau biar adil. Tapi untungnya si Bapak masih tetap ramah dan kooperatif dengan saya, saya serahkan amplop isinya sedikit bantuan dari saya dan si Bapak langsung mengembalikan KTM dan kartu nama saya. Akhirnya berakhirlah sudah permasalahan ini. Sebenernya belum berakhir juga sih, saya masih harus ngurus ke asuransi untuk perbaikan mobil saya. Tapi saya setidaknya mendapat pengalaman yang sangat berharga tentang berlalulintas.

Pesan saya adalah, jika kita sudah hati-hati di jalan pun belum tentu aman dari kecelakaan. Bisa saja kecelakaan terjadi karena kelalaian orang lain. Oleh karena itu, berhati-hati saja sudah beresiko apalagi kalau kita mengemudi tidak dengan kehati-hatian, pasti resiko kecelakaan lebih besar. Ngurus ini itu jadi lebih ribet dan malesin. So, drive safe yah semua :)

Ditabrak Mobil dari Belakang


gambar diambil dari http://blog.electricbricks.com

Tadi sekitar jam 19.00-20.00, saya sedang mengendara dari arah tol pasteur ke arah jembatan pasopati. Setelah melewati BTC, saya berjalan di sisi kanan jalan atau jalur cepat. Tiba-tiba, ada mobil hitam di depan saya yang ngerem mendadak, saya yang berada dalam jarak aman pun ngerem mendadak. Namun mobil di belakang saya kurang sigap dan tidak berhasil ngerem dengan mendadak dan menabrak mobil saya. Tabrakan tidak terlalu keras, tapi bemper saya penyok. Saya langsung minggir ke kiri dan berbicara dengan orang yang menabrak saya.

Ini adalah pertama kalinya saya berurusan dengan kecelakaan di jalan raya. Kala itu, saya berpikir yang salah adalah orang di depan saya, tapi saya juga salah karena harus ngerem mendadak sehingga orang di belakang saya (yang menurut saya saat itu tidak salah) harus menjadi korban. Saya turun dan bersikap seperti orang yg bersalah, saya berikan nomer HP saya, kartu nama saya, dan KTM saya sebagai jaminan untuk mengurus masalah ini. Kebetulan rusaknya mobil beliau tidak cukup parah, hanya lampu agak masuk ke dalam dan bemper sedikit bergeser. Awalnya saya berpikir ini bisa dicover asuransi dan masalah beres.

Sampai di kosan, saya langsung SMS ke si bapak dan bilang kalau saya akan mencoba bertanggung jawab dan menghubungi asuransi saya besok pagi. Lalu saya menelpon ibu saya untuk menanyakan bagaimana mengurus asuransi tersebut. Namun, ternyata secara hukum saya tidak salah. Saya tidak menabrak mobil di depan karena saja menjaga jarak aman tapi mobil di belakang saya menabrak saya karena dia tidak menjaga jarak aman. Namun saya sudah terlanjur memposisikan saya sebagai orang yang salah dan memberikan KTM saya kepada beliau. Saya pribadi, walaupun secara hukum tidak salah, saya masih ada perasaan gak enak sama si Bapak. Ini sih salah saya sebenernya kalau merasa seperti itu. Namun setelah konsultasi dengan Ibu, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengganti rugi dan tidak meminta ganti rugi ke si Bapak (yang secara hukum beliaulah yang harusnya mengganti rugi kepada saya).

Saya coba telpon beliau. Di telpon, beliau mengatakan kalau memang bukan saya yang salah, tapi si mobil hitam di depan saya. Beliau juga sadar beliaulah yang akan salah karena menabrak saya sehingga tidak mungkin klaim asuransi mau mengganti. Tapi, beliau masih tidak mau mengikhlaskan kondisi tersebut dan masih meminta saya untuk mengganti juga. Akhirnya, setelah bertelpon dan berSMS ria, beliau berkata kalau besok dia akan berkonsultasi dengan sodara dia yang polisi. Huft, semoga polisi masih bisa melihat mana yang benar dan yang salah tanpa perduli dia sodara siapa dan urusan ini segera selesai. Sebetulnya KTM saya tidak diambil pun tidak masalah, tapi ada ketidaktenangan batin ketika ada masalah yang tidak diselesaikan, apalagi kalau diselesaikan dengan tidak baik-baik. Mari kita lihat saja besok kelanjutannya gimana, yang pasti jadikan kisah ini pembelajaran buat semua untuk menyikapi kejadian di jalan raya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,656 other followers

%d bloggers like this: