My Journal

[Supercoolday] Perjalanan Memantapkan Hati


Gambar diambil dari http://geniussquared.com

Gambar diambil dari http://geniussquared.com

Saya dan Dea sebenernya sudah punya rencana untuk menikah di akhir 2013 atau awal 2014. Gak ada sesuatu yang membuat kita ingin cepat-cepat sih, dibawa santai saja. Kalau misalkan ternyata awal 2014 dirasa belum siap, ya diundur juga gak papa sih. Tapi semua pikiran tersebut berubah sejak saya menghadiri pernikahan salah satu sahabat dan rekan kerja saya di Arsanesia, Annas-Finna (walaupun akhirnya telat dateng resepsinya, tapi linknya bisa dilihat di sini).

Setelah dari makan sore dengan Annas-Finna dan melihat mereka berdua, malamnya Saya dan Dea ngobrol-ngobrol ringan. Awalnya yang kita masih menganggap pernikahan sesuatu yang sangat jauh di depan mata dan tidak kita pikirkan serius, malam itu kita berdiskusi cukup serius. Andaikata sebelum melihat langsung kesiapan mental kita masih 60-70%, setelah melihat langsung kita langsung merasa kesiapan mental 99%. Malam itu juga, kami berdua melakukan perhitungan financial, kira-kira berapa sih biaya yang dibutuhkan untuk bisa membina rumah tangga dengan standar kami berdua, lalu kami masukan tabungan kami saat ini, perkiraan uang yang bisa kami tabung dihitung dari gaji masing-masing, lalu sampailah pada hasil bahwa kami akan punya uang yang cukup untuk kami berdua hidup pada Oktober 2013. Akhirnya kami pun menekatkan, kalau semua berjalan according to our plan pada bulan April 2013, kami akan melaksanakan pernikahan sesegera mungkin. Lepas dari Cirebon, kesiapan mental kami sudah mantap, namun kesiapan financial kami masih belum terjamin. Tapi kami sudah punya rencana dan kami berencana juga untuk memaparkan rencana tersebut ke orang tua masing-masing.

Setelah dari Cirebon itu (hari Sabtu), hari Seninnya saya mengantar Dea ke Bandung karena sekeluarga sedang liburan di Bandung. Kebetulan siangnya saya ada resepsi pernikahan teman saya juga di Depok sehingga baru berangkat ke Bandung agak siangan. Sampai di Bandung Magrib lalu saya langsung pulang lagi ke Depok. Sesampainya di Depok, saya di Line sama Dea, katanya Dea sudah cerita rencana ini ke Ayah Bunda. Wah, seketika saya shock karena saya pikir masih nanti-nanti ceritanya. Yasudah karena Dea sudah cerita, saya pun besoknya cerita ke Ibu tentang rencana kami berdua dan juga salah satu kekhawatiran saya mengenai kesiapan financial, apalagi nanti sebagai suami harus bisa menafkahi keluarganya. Namun ternyata Ibu menasihati saya bahwa rejeki itu sudah ada jatahnya masing-masing, pasti dicukupkan, selama kita berdoa dan berusaha semaksimal mungkin. Hmm… Saya pribadi pada kala itu masih dalam tahap antara percaya gak percaya tentang rejeki yang dicukupkan walaupun Ibu sudah mengatakan bahwa kita manusia boleh punya hitung-hitungan (seperti apa yang Saya dan Dea hitung di Cirebon) tapi kita harus menyadari bahwa Allah sudah mempunyai hitung-hitungannya sendiri. Tak ada yang menjamin hitungan manusia bisa berjalan sesuai keinginan manusia oleh karena itu satu-satunya opsi dalam hidup di dunia ini adalah selalu berusaha dan berdoa sebaik mungkin, lalu ikhlas dengan berbagai kondisi yang diberikan kepada kita. Ibu akhirnya menyarankan saya (yang terlihat belum mantap ini) untuk banyak membaca buku dan berdoa.

Setelah pembicaraan itu, next step sebenernya adalah saya datang lagi ke Ibu dengan mental yang siap setelah itu meminta ijin ke orang tuanya Dea. Tapi ternyata perjalanan tidak semulus itu. Akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013, Arsanesia sedang sibuk-sibuknya banyak deadline dan menyiapkan untuk tahun 2013. Saya sempat tenggelam dalam kesibukan dan mulai sedikit khawatir dengan target di bulan April 2013 untuk melihat apakah hitungan Saya dan Dea sesuai. Kondisi Arsanesia yang naik turun membuat saya jadi sedikit ciut. Ditambah, pernah suatu ketika saya berkunjung ke rumah saudara saya, om saya bertanya kepada Ibu, “Adam rencana kapan?” Saya pikir semenjak pembicaraan yang lalu, Ibu sudah menganggap saya cukup serius, namun ternyata Ibu membalas “Masih belum kok.” Saya akhirnya jadi berpkir lagi, wah ternyata saya belum dianggap serius dan siap yah sama Ibu.

Di bulan Februari, baru saya bener-bener menyiapkan mental saya. Saya sadar tingkat keimanan saya belum sempurna, jauh dari sempurna malah. Jadinya saya belum memiliki keyakinan yang cukup untuk memiliki kesiapan hati seperti banyak orang (yang imannya jauh lebih baik dari saya) yang sudah menikah di usia muda dimana kondisi finansial mereka bahkan lebih sulit dari saya. Saya mencoba mencari jawaban dan mencari kesiapan hati dengan banyak berdoa. Saya berdoa dengan sangat khusu (yang saya ingat terakhir kali saya berdoa seperti ini ketika ingin masuk STEI ITB dulu). Nah, inilah momen dimana keajaiban terjadi dan doa saya didengar. Seminggu setelah saya berdoa sungguh-sungguh, tiba-tiba pada malam hari telpon masuk, menawarkan dua buah project untuk Arsanesia. Lalu esoknya, tiba-tiba ada teman lama saya yang sudah sangat lama tidak bertemu meminta portofolio arsanesia untuk diberikan kepada bosnya jika ingin membuat advergame. Sorenya lagi, kawan lama saya dari SD mengajak untuk kolaborasi membuat game bareng. Sore itu saya terdiam. Saya agak kaget dan shock. Ternyata bener ya? Kalau kita punya niat baik (untuk menikah) lalu kita berdoa dengan sungguh-sungguh, maka pintu rejeki akan dibukakan satu-persatu. Sayapun menjadi semakin yakin untuk maju.

Lalu yang membuat saya semakin yakin lagi adalah semenjak Bapak meninggal, saya belum pernah sekalipun mimpi tentang Bapak. Ini, setelah runtutan opportunity baru terbuka, tiba-tiba di suatu malam saya bermimpi sedang di kamar Bapak, Bapak dan Saya sedang menyiapkan barang-barang untuk seserahan. Apakah mungkin Bapak melihat keraguan Saya dan berusaha menguatkan hati saya? Saya juga tidak tahu. Yang pasti dari rentetan peristiwa itu, akhirnya saya menjadi 100% yakin dan mantap untuk maju. Tak lama setelah itu, sayapun langsung bilang ke Ibu kalau hati saya sudah siap dan mantap.

Next akan saya ceritakan proses meminta restu ke Ayah Bundanya Dea dan juga persiapan “The Proposal Day.” Semoga tulisan ini bermanfaat buat yang masih galau yah :) hehehe

About Adam Ardisasmita (822 Articles)
Full time husband, Part time CEO and Game Developer at Arsanesia, Tech Enthusiast, Writer, Blogger, and Traveller who Addicted to Tea, Smoothies, and Healthy food.

5 Comments on [Supercoolday] Perjalanan Memantapkan Hati

  1. adam, lo orang kedua (yang gw kenal), yang membuktikan kata orang2 klo nikah itu emang bener-bener buka pintu rejeki hahaha. cool. semoga lancar nyiapin pernikahannya.

    Like

  2. Ditunggu sequel selanjutnya Dam.

    Like

  3. Adam subhanallah banget. Semoga lancar ya Adam :)

    Like

  4. @sausan: hihi amin amin, semoga terus dilancarkan :)

    @bella: makasih belabelo :D amiin

    @ami: hihi makasih ami :) aminnn semoga lancar sampai hari H dan seterusnya

    Like

2 Trackbacks & Pingbacks

  1. [Supercoolday] Persiapan untuk “The Proposal Day” | Rumah Pikiran Ardisaz
  2. [Supercoolday] The Proposal Day | Rumah Pikiran Ardisaz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,794 other followers

%d bloggers like this: