[1CDperMonth] BLP – Innerlight, Lebih Soul dan Slow


Screen Shot 2014-04-01 at 5.18.24 PM

Bulan April ini saya lanjutkan program 1 CD per month dalam bentuk musik digital lagi (via iTunes). Sepertinya sekarang dan ke depannya saya tidak akan membeli CD lagi mengingat laptop masa kini tidak memiliki CDroom lagi :) Saya juga sempat membaca komentar katanya kalau beli di iTunes tidak bisa dimainkan di perangkat lain selain perangkat iDevice (ipod, iphone, ipad, mac, dll). Mungkin ini adalah sistem proteksi dari Apple terkait dengan DRM agar lagu yang sudah diunduh tidak disebarluaskan oleh masyarakat secara bebas. Tapi apakah benar hanya bisa dimainkan di iDevice? Jawabannya tidak benar. Saya bisa mendengarkan lagu-lagu yang sudah saya beli di iTunes melalui device Windows Phone milik saya dengan cara sync lagu di iTunes menggunakan software bawaan dari Windows Phone for mac. Intinya selama masih digunakan menggunakan aplikasi resmi, rasanya lagu tersebut masih bisa didengarkan menggunakan device lain (kalau android saya belum coba).

Back to today’s post, saya adalah salah satu pecinta lagu-lagu BLP. Apalagi album terakhirnya (yang ini) menurut saya sangat groovy dan asyik untuk didengarkan. Setelah penantian cukup panjang, akhirnya muncul juga album BLP yang berjudul Innerlight. Dari cover albumnya, terlihat konsep visual yang mengedepankan kedewasaan dan hal tersebut tercermin juga di lagu-lagu dalam album barunya ini. Menurut saya lagu-lagu di album Innerlight ini lebih banyak soul dan jazznya dibandingkan funk dan popnya. Kalau di album Generasi Synergi banyak lagu upbeat, penuh dengan semangat dan hentakan, di Innerlight ini lebih banyak lagu yang lebih pelan, santai, dan nyaman untuk di dengarkan. Album Innerlight ini juga dipenuhi kolaborasi dengan musisi-musisi jenius seperti lagu “Menunggu” featuring Glenn Fredly, “Keep it Real” featuring Indra Aziz, dan lagu favorit saya di album ini “Jangan Terhenti” feat Teddy Adhitya (dulu personil Boyz2boys, sekarang banyak manggung bantuin BLP buat gantiin Mathew Sayersz) dan Ray Monte. Kalau pas masih ada Mathew ada sekitar 5-6 track yang lagu dengan vokal, di album yang sekarang juga sama walaupun vokalisnya ganti-ganti (featuring). Terus juga rasanya di album ini gak ada lagu yang disiapin untuk pasar mainstream seperti lagu “Saat Kau Miliku.” Jadi emang album ini kayaknya didedikasiin banget buat fans setianya yang menyukai aliran jazz, funk, dan soul. Lalu untuk lagu instrumentalnya juga saya tidak menemukan yang seenak lagu “Seven 7″ di album sebelumnya. Padahal di situ saxophone-nya Dennis Junio asyik banget di dengernya :) Jadi kalau saya simpulkan, emang ada warna yang berbeda yang ingin diperdengarkan kepada fans-fansnya di album ini (mungkin itu kenapa namanya innerlight :p #ngasal).

Overall saya suka album ini. Lirik2nya bagus, gak norak, apalagi alay -_- Komposisi musiknya gak usah ditanya, udah pasti juara banget. Cuma sayangnya yang saya suka dari BLP itu grove dan funknya, sedangkan album ini ternyata lebih soul dan slow. Tapi ya ndak papa, itu kan selera masing-masing aja. Saya pribadi menilai album ini layak diberikan score 8/10. Ayo dibeli yah yang originalnya :)

Mahasiswa ITB Tidak Berniat Mengusir Jokowi


Aksi Mahasiswa ITB

Aksi Mahasiswa ITB

Kamis ini sosial media dan forum-forum diskusi ramai membahas kasus demonstrasi mahasiswa ITB yang mengusir Jokowi datang ke tanah ganesa. Fakta di lapangan pun terjadi serupa dengan yang beredar di dunia maya, ratusan mahasiswa ITB membangun barikade di gerbang ganesa, membentangkan spanduk, hingga menghalang-halangi mobil rombongan Jokowi yang ingin masuk ke kampus. Sontak kejadian ini menimbulkan kontra dari banyak sekali pihak karena hal itu salah dari berbagai sisi, bahkan banyak yang menyebut itu merupakan sikap primitif dan phobia lebay. Saya bukan simpatisan PDIP maupun pendukung Jokowi. Tapi melihat fakta lapangan seperti itu, saya sendiri miris menyaksikan aksi mahasiswa di kampus saya yang menurut saya kurang intelek. Sebenernya kemarin saya sudah gatel pengen komen di blog, tapi saya selalu ingat etika jurnalistik dimana kita harus mencari sumber sebanyak2nya dan harus berimbang agar tidak cacat informasi. Akhirnya saya urungkan niat saya yang ingin berkomentar melalui tulisan dan mulai mencari fakta data yang lebih valid lagi. Setelah saya rasa informasi sudah berimbang, saya baru akan mencoba membahas kasus “pengusiran Jokowi” kemarin. (sumber saya dapat dari himpunan saya dulu HMIF, twitter KM ITB, twitter Boulevard ITB, postingan blog dosen ITB, dan media-media online).

Jokowi datang ke ITB atas undangan dari ITB untuk penandatanganan MoU kerja sama antara pemprov DKI dengan ITB. Kedatangannya merupakan kapasitasnya sebagai gubernur DKI yang juga merupakan invitasi dari pihak ITB. Berhubung beliau datang ke kampus, sekalian lah diminta untuk mengisi kelas umum di ITB yang berjudul Studium Generale dimana nama-nama besar kerap kali mengisi kelas tersebut. Sebenernya udangan ini sudah pernah diberikan jauh-jauh hari, tapi entah mengapa beliau baru bisa hadir kemarin. Sayangnya, timing tersebut dianggap tidak pas oleh mahasiswa ITB yang melihat ada unsur politis dari kedatangan gubernur DKI yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai presiden. Poin ini lah yang dijadikan nyawa dari gerakan KM ITB untuk memberikan aksi dan suaranya ketika sang gubernur tersebut datang. Khawatir ajang ini dijadikan arena untuk kampanye capres, KM ITB menginisiasi untuk membuat aksi. Aksi apakah yang direncanakan oleh KM ITB? Apakah aksi pengusiran Jokowi?

Surat edaran dari KM ITB menyikapi kedatangan Jokowi

Surat edaran dari KM ITB MAJALAH GANESHA (diklarifikasi oleh senator HMIF) menyikapi kedatangan Jokowi

Aksi yang akan dilakukan oleh KM ITB adalah mencegah forum Studium Generale menjadi arena kampanye. Mereka ingin memastikan tidak ada atribut partai yang muncul di ruangan, tidak ada pembicaraan tentang pencapresan yang dilontarkan di forum tersebut, dan ingin membuat statement bahwa “walaupun jokowi dateng ke ITB, tapi kami mahasiswa tidak menyatakan sikap untuk mendukung beliau.” Mungkin mahasiswa ini khawatir media akan membuat tulisan yang menyebutkan “ITB mendukung program-program Jokowi.” Jadi rencananya adalah mereka ingin membuat aksi teatrikal di depan kampus yang menunjukan bahwa ITB tidak memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai presiden dan ITB akan tetap netral dari kecenderungan memihak satupun calon presiden. Lalu ketika Jokowi nanti mengisi studium generale, mereka akan memastikan tidak ada pembicaraan tentang pencapresan dan murni hanya membahas masalah tata kota. Mereka berkoordinasi dengan moderator agar men-cut semua pertanyaan atau pernyataan yang menjurus ke arah pencapresan. Begitu niat awalnya. Lalu apa yang terjadi di lapangan? Masa membludak, tidak terkendali, sehingga terjadi “kerusuhan” di gerbang depan yang malah membuat statement publik menjadi “pengusiran jokowi.” Jokowi tidak jadi tampil di Studium Generale karena merasa tidak diterima oleh mahasiswa dan tidak ingin melahirkan polemik. Padahal, mahasiswa yang sudah standby di kelas Studium Generale untuk mendengarkan pemikiran DKI 1 ini jauh lebih banyak dari oknum yang di gerbang depan tersebut. Tapi tindakan Jokowi ini bisa dibilang sudah tepat, paling di mobil pas jalan pulang dia ketawa-ketawa sendiri keheranan ada apa dengan mahasiswa ini, orang dia yang diundang tapi dia sendiri diusir. Yang paling kesel siapa? Alumni dan yang paling parah adalah dosen serta pak rektor. Malu dong, dia yang ngundang tapi anaknya sendiri yang “ngusir.”

klarifikasi dari KM ITB part 1

klarifikasi dari KM ITB part 1

klarifikasi dari KM ITB part 2

klarifikasi dari KM ITB part 2

Mengapa bisa jadi “pengusiran” dan tindakan primitif begitu di kampus? Banyak faktornya. Yang pertama jelas bahwa KM ITB blunder, mereka merencanakan statement making mereka dilakukan oleh 40 orang, nyatanya ratusan orang yg hadir di depan. Apakah itu mahasiswa ITB? Apakah itu bayaran? yang pasti tidak ada di teklap mereka untuk mengorganisir ratusan orang. Lalu, apa buktinya kalau ada oknum? KM ITB hanya membuat spanduk dengan tulisan “mencegah politisasi kampus” namun nyatanya ada spanduk dari oknum liar yang berbunyi “Jokowi ingkar janji” yang tidak sesuai dengan substansi aksi KM ITB. Lalu faktor lainnya adalah minimnya waktu persiapan yang diperlukan untuk aksi tersebut. Aksi ini bisa dibilang minim persiapan yang matang sehingga koordinasi dan sosialisasi kurang maksimal. Hal ini yang menyebabkan massa di lapangan menjadi kurang terkoordinir hingga terjadi indiden “pengusiran” itu. Walaupun di lapangan, ketika mulai rusuh dan dorong-dorongan, komandan lapangan dari aksi tersebtu sempat memarahi massa kampus yang barbar dan meminta mereka untuk tertib. Alhasil setelah itu, aksi berlangung tertib hingga Jokowi masuk ke ruang mengajar (walaupun tidak jadi). Sayang nasi sudah jadi bubur, opini sudah terlanjur digiring, sekarang mahasiswa ITB jadi bahan ketawaan alumni, dosen, mungkin juga bahan candaan bagi partai-partai oposisi PDIP dan pembenci Jokowi. Bagusnya, KM ITB sudah membuat klarifikasi tentang hal itu. Tapi pertanyaannya, apakah media berniat mengangkat klarifikasi tersebut? Berita mahasiswa ITB mengusir jokowi jauh lebih seksi dibandingkan aksi mahasiswa ITB tidak sesuai teklap. Jadi yang sabar-sabar aja kalau nemu banyak sekali artikel, opini, dan suara-suara sumbang menyudutkan KM ITB.

Lepas dari kasus yang keluar kendali ini. Sebenernya ada dua hal yang ingin saya soroti tentang nafas dari aksi pembuatan statement dari mahasiswa ITB ini. Yang pertama, emangnya Capres gak boleh ya kampanye di kampus? Bahkan di surat edaran, disebutkan “menolak siapapun yang punya kepentingan politisasi untuk masuk kampus.” Saya rasa kampus adalah panggung akademis terbaik untuk menguliti habis-habisan para capres dari sisi akademis. Arena seperti inilah yang nanti bisa menunjukan kepada dunia bedanya capres pintar dengan capres dangdut. Kalau bukan di panggung akademis, di mana lagi? Di TV? TV udah ada yang punya, mana bisa adu argumen cerdas di TV :p Jadi harusnya kampus lah panggung gagasan termegah bagi para capres itu untuk diuji dari berbagai sudut akademis. Kalau perlu, semua capres tiap minggu diundang ke kampus untuk ditelanjangi visi dan misinya. Bawa semua atribut partainya, bawa semua draft tentang Indonesia 5 tahun versi masing-masing capres, bongkar habis semua program-program mereka. Itu baru namanya cerdas dan mencerdaskan.

Yang kedua, kapasitas jokowi dateng tidak dalam keperluan safari politik. Saya rasa pembuatan statement seperti itu terlalu prematur karena teman-teman mahasiswa sudah menuduh Jokowi akan berkampanye sebelum dia berbicara apapun. Seharusnya aksinya cukup dilakukan di dalam forum dan kawal betul diskusi di forum agar tidak berbau kampanye. Karangan bunga bahwa kampus telah dipolitisasi dan spanduk yang menolak politisasi kampus menurut saya terlalu gegabah dan tidak cerdas. Wajar media dan masyarakat menjadi lebih simpatik ke Jokowi karena itu adalah fitnah. Sama saja dengan stereotype amerika yang melihat ada orang arab mau masuk ke negaranya. Statement itu perlu dibuat hanya jika Jokowi memanfaatkan momen tersebut untuk kampanye. Tapi kalau tidak, tolong pandang beliau sebagai manusia akademis yang ingin berbagi ilmu tentang tata kota dan infrastruktur Jakarta kepada mahasiswa. Menurut saya banyak kata-kata yang lebih pas untuk diletakan di spanduk dibandingkan tuduhan politisasi kampus yang sangat offensif . Tekankan saja pernyataan sikap kalau KM ITB tidak memberikan dukungan kepada Jokowi dan tetap netral misal “walaupun Pakde Jokowi ngisi kuliah, bukan berarti KM ITB mendukung beliau,” “monggo ngajar di ITB asal jangan bawa-bawa atribut partai yah Pak,” “ngasih materi OK, kampanye colongan ojo yo Pak,” dan banyak statement lainnya yang menurut saya lebih tepat daripada tuduhan “Turut Berduka Cita karena Politisasi Kampus” yang seakan-akan kedatangan Jokowi = politisasi kampus.

Rencana awal dari Kongres KM ITB

Rencana awal dari Kongres KM ITB

Edaran dari kabinet KM ITB

Edaran dari kabinet KM ITB

Mungkin segitu saja tulisan dan pandangan singkat saya mengomentari kasus “pengusiran Jokowi.” Semoga bisa menambah pelajaran dan wawasan bagi kita semua, terutama kepada mahasiswa ITB yang saat ini sedang mengemban pendidikannya. Jangan jadikan kasus ini sebagai pukulan moral bagi kalian, tapi jadikanlah ini pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati lagi dalam membuat statement serta lebih matang lagi dalam mempersiapkan aksi. Banyak hal positif yang bisa ditarik dan dijadikan pembelajaran dari kasus kemarin. Satu hal positif yang menurut saya baik adalah kesadaran berpolitik di kampus sudah semakin tinggi (semoga :p). Saya sih sebenernya skeptis waktu pagi-pagi dengar info mahasiswa ITB mau aksi, ah paling cuma belasan orang yang ikut aksi. Tapi fakta bahwa bisa ada ratusan orang berkumpul (entah itu mahasiswa ITB atau bukan, orang bayaran atau bukan), udah kemajuan yang baik dinamisasi kampus kita. Pesan terakhir saya, sekarang posisi kalian sedang di bawah, ayo berpikir kreatif bagaimana caranya untuk menjawab cibiran serta harapan masyarakat di luar terhadap mahasiswa ITB. Sekian dan terima kasih :)

N.B klo ada informasi yang saya sampaikan salah, mohon diklarifikasi.

[GameLog] Mendengar Feedback dan Memberi Update


panel_rate

Salah satu kerjaan rutin tiap pagi saya adalah membuka dashboard analitik. Di situ kita bisa melihat berapa jumlah download, berapa sering pemain kembali ke game, berapa banyak yang memainkannya dalam satu hari, dan banyak sekali data-data lainnya. Mungkin saya tidak akan membahas tentang KPI dari sisi angka dan statistik dulu, tapi saya lebih ingin membahas input kualitatif berupa feedback review dari user. Feedback review dari user ini adalah sebuah tools yang sangat penting bagi berkembangnya game/produk kita. Bentuk review dari user ini bisa bermacam-macam, ada yang hanya memberikan rating di store, ada yang memberikan comment di store, bahkan ada yang sampai mengirimkan email panjang ke akun support game tersebut. Bagi saya, semua feedback tersebut adalah hal yang sangat berharga dan sangat memacu untuk terus mengembangkan dan memperbaiki kualitas game tersebut.

Rasanya saya sudah sering mention bahwa tidak ada produk yang sempurna, apa lagi yang baru dirilis. Jadi disinilah tahap untuk memoles dan menyempurnakan game kita secara bertahap. Di game Roly Poly Penguin itu sendiri, kami menargetkan setiap 1-2 minggu sekali memberikan update sesuai dari masukan dari user kita. Ada banyak sekali hal-hal major hingga hal-hal kosmetik yang kami tambahkan ke dalam game. Ada banyak sekali masukan yang datang dan itu selalu saya catat ke rencana penambahan fitur/feedback untuk update berikutnya. Dengan metode seperti ini, saya ingin agar game tersebut juga tumbuh bersama usernya. Tidak hanya kita memberikan user experience bermain game yang menyenangkan, kita juga terus menghargai user kita dan memberikan value lebih ke dalam game kita.

Feedback yang dicatat

Feedback yang dicatat

Ada beragam feedback yang saya sering perhatikan. Feedback-feedback positif dengan rating lima, biasa saya pandangi sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras developer, tapi saya tidak terlalu lama menatap komen-komen tersebut. Bagi saya, komen terpenting adalah ketika ratingnya rendah atau komennya negatif karena itu merupakan bahan bakar utama bagi developer untuk tetap semangat memperbaiki game tersebut. Saya akan coba tampilkan beberapa feedback untuk Roly Poly Penguin dari user.

Feedback yang memacu kita utk memperbaiki performa game

Feedback yang memacu kita utk memperbaiki performa game

Feedback setelah game diupdate

Feedback setelah game diupdate

Akan tetapi, ternyata masih ada yang belum terselesaikan masalahnya :p

Akan tetapi, ternyata masih ada yang belum terselesaikan masalahnya :p

Feedback yg bikin rajin buka google translate

Feedback yg bikin rajin buka google translate

Terkadang ada update yang membuat dilema sang developer

Terkadang ada update yang membuat dilema sang developer

Itu hanyalah sebagian kecil dari banyak sekali feedback yang telah saya terima, capture, dan siapkan untuk update berikutnya. Intinya adalah setiap suara itu penting dan kita harus melakukan sesuatu untuk menjawab suara tersebut. Terutama jika game kita itu berbayar, maka sudah menjadi hal yang mutlak bagi kita untuk siaga mendengarkan pendapat dan keluhan user kita kemudian memperbaikinya di rilis update berikutnya. Satu lagi poin penting yang ingin saya ulang dari tulisan-tulisan gamelog saya sebelumnya adalah “Rilis bukanlah akhir dari perjalanan, rilis adalah garis start.”

Dilema Orang Pintar di Indonesia


Gendhis - Mobil Listrik dari Indonesia *gambar diambil dari kaskus*

Gendhis – Mobil Listrik dari Indonesia *gambar diambil dari kaskus*

Sekitar dua tahun yang lalu, saya sedikit berdiskusi dengan seorang rekan yang sangat pintar dan berprestasi. Dari SMP dia sudah terkenal kecerdasannya, ketika SMA memiliki juga memiliki segudang prestasi di kancah nasional hingga internasional. Dia melanjutkan kuliah di luar negeri untuk memperdalam lagi keilmuannya. Setelah selesai S1, saya sempat berbincang-bincang dengan tentang rencana ke depannya. Rencananya sih dia akan meneruskan kuliahnya lagi di luar negeri (dan sekarang dia sedang berkuliah) sambil tetap menggali pengalaman dan terus memperdalam ilmu di lab. Lalu kita sempat masuk ke topik apakah akan kembali ke Indonesia? Menurut saya ini topik yang sangat menarik sekali karena menjadi sebuah dilema tersendiri bagi orang-orang seperti dia yang sangat pintar dan beprestasi untuk bisa kembali ke Indonesia. Pertanyaan terbesarnya apakah jika dia kembali ke Indonesia, apakah dia bisa tetap berkarya? Apakah akan mendapatkan fasilitas untuk terus mencipta? Apakah karyanya akan digunakan, diapresiasi, dan dihargai? Bukan uangnya, tapi nilai manfaat dari keilmuannya, terutama bagi kemajuan kemanusiaan. Saya juga jadi bingung, melihat ilmu yang dia geluti, jika kembali ke Indonesia, tidak ada fasilitas yang sanggup untuk membawa kecerdasannya menjadi sebuah temuan berharga. Sayang juga harusnya karya dia bisa bermanfaat bagi orang banyak, tapi kalau pulang jadi gagal karya. Tapi kalau tidak pulang, apa kabar Indonesia? Hal itu bukanlah mitos belaka dan pertanyaan yang sama juga terbesit di salah satu kasus yang sedang ramai dibicarakan yakni tentang mobil listrik.

Seperti yang pernah kita ketahui, menteri BUMN kita Pak Dahlan Iskan telah berhasil memanggil salah satu putra bangsa berprestasi untuk kembali ke Indonesia. Sama seperti rekan saya, putra bangsa yang kembali ke Indonesia ini adalah orang yang sudah sanga berpretasi dan cerdas. Ia hidup nyaman dengan karir terbuka lebar di luar negeri. Ia kembali ke Indonesia dengan pertanyaan yang sama, apakah karyanya akan digunakan? apakah pemikirannya akan dihargai? Tidak masalah gaji dia turun dibandingkan ketika di luar negeri, bahkan Pak Dahlan Iskan sendiri yang akan memberikan seluruh gajinya sebagai mentri BUMN kepada dia demi meyakinkannya.  Dia telah berhasil membuat prototype tiga mobil listrik yang bisa menjadi kebanggaan dan salah satu kebangkitan otomotif Indonesia. Tapi apa yang terjadi? Pertanyaan-pertanyaan dia terjawab sudah, saat ini pemerintah dan ekosistem di Indonesia masih sama seperti dulu. Sistem birokrasi Indonesia masih diisi orang-orang penuh kepentingan. Saya agak miris membaca postingan Pak dahlan Iskan di blognya yang bercerita tentang nasib sang pencipta mobil listrik tersebut dan cenderung menyarankan agar dia kembali saja ke luar negeri agar bisa kembali berkarya dan berkarier (tulisannya bisa dibaca di sini). Saya sih mikirnya wajar yah, orang Habibie yang tenar dan punya power aja ujung2nya karyanya cuma masuk gudang sehingga ia harus hijrah ke luar negeri, apalagi ini hanya anak bangsa biasa yang kebetulan punya otak pintar.

Namun melihat fakta tersebut, saya sendiri mulai melihat ada angin segar berhembus di Indonesia. Melihat sebagian besar pemerintah yang duduk di kursi nyaman saat ini, wajar kalau kita pesimis. Akan tetapi, sekarang udah mulai muncul benih-benih orang baik di Indonesia yang mau maju dan bisa memegang kekuasaan. Akhirnya, orang baik di Indonesia bisa ada di atas. Munculnya nama-nama seperti Pak Dahlan Iskan, Pak Jokowi, Pak Ahok, Pak Ridwan Kamil, Bu Risma, Pak Anies Baswedan, dan mungkin masih banyak tokoh-tokoh putih lainnya di pemerintahan, membuat kita bisa semakin optimis terhadap Indonesia ini 5-10 tahun ke depan. Memang tidak mudah untuk memwipeout generasi tua dan korup dari pemerintahan, tapi gerakan kecil dengan segelintir orang baik ini tentu akan mampu mengubah banyak sekali mindset dan arah gerak dari bangsa ini. Ketika kendaraan politik sudah bisa memfasilitasi orang-orang muda dan baik ini untuk maju, kita tinggal berdoa agar generasi tua yang korup itu segera pensiun, mundur, atau dipanggil oleh sang pencipta. Coba bayangkan, ketika seluruh anggota kabinet, seluruh anggota legislatif, seluruh anggota polisi dan militer, seluruh hakim, dan seluruh tatanan negeri ini dipimpin oleh orang baik, gak usah dipanggil ato dijanjikan gaji besar, orang-orang cerdas ini pasti dengan senang hati dan penuh kerelaan akan kembali ke Indonesia untuk mengabdi dan turut serta menyembuhkan Indonesia. Untuk itu pesan saya, langkah kecil yang bisa kita lakukan adalah memastikan presiden yang akan kita pilih untuk lima tahun ke depan adalah generasi baru yang bersih dan jujur, bukan tokoh dari masa lalu yang terbukti punya catatan kelam.

Selo - Mobil Listrik dari Indonesia *gambar diambil dari kaskus*

Selo – Mobil Listrik dari Indonesia *gambar diambil dari kaskus*

Empat Unsur Candu dari Game Online


Screen Shot 2014-04-11 at 3.45.26 PM

Bagi masyarakat yang awam terhadap dunia game, pasti terheran-heran ketika mendengar ada orang yang bisa menghabiskan berhari-hari di warung internet untuk bermain game online. Bahkan di kalangan akademis, saya juga sering mendengar kasus dimana ada pelajar ataupun mahasiswa yang pada akhirnya harus didropout dari tempatnya mengais ilmu karena sering bolos untuk bermain game. Efeknya adalah game dicap sebagai suatu hal yang negatif dan berdampak buruk bagi pemainnya. Untuk itu saya ingin coba membahas apa yang membuat seseorang bisa kecanduan game, terutama game online. Tapi sebelum itu, saya ingin mencoba meluruskan dulu bahwa efek negatif dari kecanduan game itu tidak bisa digeneralisir sebagai kejahatan yang disebabkan oleh game. Seseorang bisa kecanduan karena apa saja, mulai dari kecanduan bermusik, kecanduan olahraga, kecanduan makan, kecanduan tidur, dan kecanduan lainnya dimana titik masalahnya adalah di orangnya, bukan di subjek aktivitas yang dia lakukan.

Kembali ke topik game online, dulu sewaktu saya SMP, game online pertama yang masuk dan paling booming adalah game dengan judul Ragnarok yang berasal dari Korea Selatan. Semenjak itu, warnet jadi semakin menjamur demikian juga dengan judul-judul game online lainnya. Lalu ketika saya SMA, muncul satu lagi game online yang sangat buming berjudul World of Warcraft (WoW) buatan Amerika. Game WoW ini juga punya mini seri yang suka disebut dengan Dota. Nah, WoW dan Dota ini lah yang biasanya menyebabkan seseorang bisa didrop out karena membuat ketagihan sehingga mereka jadi malas kuliah, malas mengerjakan tugas, dan lain sebagainya. Saya kembali tekankan, bahwa game-game tersebut memiliki daya tarik yang membuatnya memiliki unsur candu, tapi apakah game tersebut merusak seseorang itu kembali lagi ke orang tersebut. Sebagai contoh, Saya sendiri baru mulai main WoW ketika saya tingkat 4 (bisa dibilang cukup telat karena game ini udah ngetrend dari lama). Walaupun saya rajin bermain game tersebut, nyatanya saya tidak dropout. Saya lulus tepat waktu, 4 tahun, dengan predikat cumlaude. Jadi saya ingin kembali mengingatkan bahwa ini bukan soal gamenya saja, tapi juga orang yang memainkannya, apakah dia bertanggung jawab terhadap hidupnya atau tidak. Jadi apa sih yang membuat game online ini bisa sangat menyenangkan untuk dimainkan dan berpotensi membuat seseorang kecanduan? Saya akan coba ambil studycase dari dua game online paling terkenal yang pernah saya mainkan yaitu Ragnarok dan WoW.

Personalisasi Karakter

Personalisasi Karakter

Poin pertama yang menyebabkan candu dari game online adalah personalisasi karakter. Di dalam game, kita bisa membuat “alter ego” diri kita menjadi apapun yang kita mau. Kita bisa mewujudkan karakter diri kita menjadi berbagai macam profesi fantasi yang ada di dalam game sesuai dengan keinginan kita. Apalagi, profesi di dalam game ini adalah profesi yang tidak ada di dunia nyata saat ini. Sebagai contoh, kita bisa menciptakan diri kita sebagai seorang pemburu yang mahir menggunakan panah, atau sebagai penyihir yang bisa mengendalikan berbagai elemen di bumi seperti api, es, listrik, dan lain-lain, bisa menjadi seorang ahli pedang yang memiliki tubuh kuat dan kekar. Tak hanya profesi, kita bisa juga menjadi berbagai macam ras magis di dalam game. Kita bisa mewujudkan karakter kita sebagai ras manusia, ras peri, ras kurcaci, dan berbagai ras menarik lainnya. Personalisasi karakter ini merupakan poin penting yang membuat game online menyenangkan karena kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan, bahkan mungkin yang selama ini hanya ada di tv atau khayalan, menjadi sebuah karakter yang “nyata” dan di “dunia game” itu direffer sebagai diri kita. Khayalan yang menjadi nyata, itulah salah satu unsur candu di dalam game online.

Poin berikutnya adalah dunia di dalam game yang sangat luas dan mendekati kenyataan. Ketika bermain game online, kita tidak hanya main di satu level, sepuluh level, atau seratus level saja, tapi kita bermain di sebuah dunia virtual yang sangat luas. Dunia virtual yang bisa terdiri dari 3-4 benua, di mana tiap benua ada beberapa spot lokasi dengan penampakan yang sangat realistis. Ada kota, ada desa, ada istana, ada hutan, ada padang pasir, ada rawa-rawa, dan berbagai spot baik itu yang normal maupun lokasi-lokasi mistis ataupun unik. Tanpa perlu memiliki objektif apapun, hanya melakukan eksplorasi dunia itu saja sudah merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi game-game saat ini memiliki kualitas grafis yang sangat cantik sehingga pemandangan di dunia game itu terlihat sangat nyata dan visually pleasing. Dunia virtual di dalam game inilah yang membuat seseorang tertarik “berada” di sana dan beraktivitas di tampat itu juga.

World yang sangat luas untuk dieksplorasi

World yang sangat luas untuk dieksplorasi

Poin ketiga adalah levelling dan quest. Layaknya sebuah permainan pada umumnya, setiap game wajib memiliki objektif. Salah satu objektif utama dari game online seperti Ragnarok atau WoW adalah levelling. Levelling adalah menaikan level karakter di dalam game kita hingga ke level tertinggi. Misalkan ketika baru pertama kali bermain kita level 1, kita harus levelling sampai ke level 90. Cara menaikan levelnya adalah dengan bertualang dari satu kota ke kota lain, mengerjakan berbagai macam quest yang ada di kota itu. Contohnya, ketika bermain WoW, saya memilih karakter dengan ras Elf dan kelasnya dia adalah Warrior. Maka saya akan memulai petualangan saya dari kota peri dimana disana saya mengerjakan quest dasar-dasar menjadi seorang warrior, skill apa saja yang saya miliki dan bagaimana menggunakannya, dan lain-lain. Ketika saya sudah sampai level tertentu, quest sudah didesign untuk kita melanjutkan ke kota lain untuk mengambil quest berikutnya. Ada banyak sekali kota yang menyediakan quest yang bisa kita pilih dengan berbagai macam jenis quest yang sangat menarik, unik, dan seru untuk dikerjakan karena ada juga cerita menarik di tiap questnya. Proses levelling dan menjalankan quest untuk mencapai level tertinggi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri dari game online. Lalu kenapa kita harus sampai ke level tertinggi dan apa yang kita lakukan ketika sudah mentok levelnya? Di sinilah candu paling utama di mulai.

Poin keempat, unsur sosial. Tiga poin di atas menurut saya bisa juga dimiliki oleh game-game offline. Unsur sosial inilah yang menjadi kunci utama kenapa game online sangat addictive untuk dimainkan. Sosial yang seperti apa? Tadi di awal saya sempat membahas kalau kita bisa memilih mau jadi ras apa, mau jadi class apa, dan lain sebagainya. Kita bisa menjadi penyihir, ahli pedang, pemburu, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, kita juga bisa memiliki profesi tambahan apakah ingin menjadi pandai besi, penambang, penjahit, dan lain sebagainya. Lalu untuk apa kelas dan profesi itu? Ketika kita sudah level tertinggi, inilah titik dimana game tersebut dimulai keseruannya. Objektif ketika sudah level tertinggi adalah menaklukan bos-bos tertinggi di game itu melalui petualangan di dungeon-dungeon. Lalu apakah syaratnya hanya level sudah mentok saja? Tidak. Untuk bisa masuk ke dungeon tersebut, kita butuh kerja sama dengan pemain lain (biasanya minimal berlima). Kerja sama antar pemain inilah yang membuat game online menjadi seru karena keberhasilan kita menyelesaikan suatu dungeon sangat dipengaruhi oleh orang lain, terutama struktur kelas apa saja yang tergabung dalam tim kita. Secara umum untuk bisa memenangkan suatu dungeon kita butuh tiga tipe pemain, Tank, Damage, dan heal. Tank adalah karakter dengan tipe bertahan yang fungsinya adalah menarik musuh agar menyerang dia sehingga pemain lain tidak terkena serangan. Lalu ada juga tipe damage yang tugasnya untuk menyerang musuh-musuh yang sedang menyerang Tank. Damage ini sendiripun bisa macam-macam, ada yang menyerang dengan serangan fisik ada yang dengan magic. Ada yang menyerang dengan jarak jauh (range, caster) ataupun jarak dekat (melee). Lalu yang terakhir adalah healer yang bertugas sebagai support menyembuhkan pemain jika ada yang terluka, terutama Tank. Variasi dari tim dan skill dari anggota tim menjadi faktor utama keberhasilan kita untuk menyelesaikan suatu dungeon atau tidak. Lalu, ada lagi dungeon yang butuh minimal 10 orang, dan ada pula yang butuh minimal 25 orang. Lalu ketika dungeon pun setiap tempat dan bos punya jurus berbeda-beda sehingga strategi mengalahkannya juga berbeda-beda. Makanya sebelum mulai melawan bos, biasanya kita briefing dulu strategi apa yang akan kita gunakan untuk melawan bos tersebut. Itu kenapa game online sulit untuk ditinggalkan, kadang ketika kita tidak sedang main pun bisa saja di SMS teman kita karena butuh 1 orang lagi untuk melawan bos yang ber25. Kadang saya dan teman-teman janjian dari jauh-jauh hari untuk meluangkan weekend agar bisa online bareng mengalahkan berbagai macam bos.

Variasi skill dan spell beragam tiap karakter

Variasi skill dan spell beragam tiap karakter

Itu adalah empat poin utama yang menurut saya membuat game online sangat adiktif. Siklusnya adalah kita menentukan karakter kita -> kita levelling dan mengerjakan quest ->kita mengalahkan bos di dungeon-dungeon beregu -> agar kita bisa dapet equipment (baju, pedang, sepatu, skill, dll) yang lebih bagus dari orang lain. Lalu kalau bagus emang kenapa? Di Game online ini biasanya kita bisa duel dengan orang lain. Bahkan di WoW, secara umum dibagi jadi dua grup besar dimana ketika kita main kita menentukan mau di grup mana. Ketika kita berpapasan dengan grup lain, kita bisa duel dengan orang itu (biasa disebut dengan PvP, player versus player). Masih banyak lagi poin lain yang juga membuat game online menarik, tapi saya rasa empat poin itulah yang menjadi daya tarik paling besar bagi saya untuk kembali bermain tiap harinya.  Dan terakhir, sekali lagi saya tekankan, apakah bermain game itu memberi pengaruh baik atau buruk itu tetep kembali lagi ke pemainnya. Apakah dia bisa bermain dengan bertanggung jawab serta mengendalikan dirinya atau tidak. Kalau tidak, jangan salahkan gamenya, tapi salahkan pemainnya.

[GameLog] Release Fast


Perilisan Roly Poly Penguin

Perilisan Roly Poly Penguin

Melanjutkan seri GameLog, salah satu kasus yang sering Saya alami atau temui ketika mengembangkan produk/game adalah terlalu lama di pengonsepan dan pengembangan fitur sehingga proses pengembangan game menjadi sangat lama dan akhirnya batal diluncurkan. Ada beberapa judul game yang sudah ada GDDnya, bahkan sudah ada prototypenya, tapi tidak dilepas ke pasar karena banyak alasan. Salah satu alasan terbesarnya adalah karena Saya ingin game tersebut sempurna ketika masuk ke pasar, sudah dengan fitur terbaik yang kami bayangkan harus ada di game tersebut. Hal ini tentu tak akan jadi masalah jika kita punya nafas (uang) panjang untuk bisa melayani keinginan kita membuat game yang sempurna dan meluncurkannya dengan versi terbaik yang pernah kita bayangkan. Tapi pada kenyataannya, banyak sekali produk (tidak hanya game) yang besar karena dia terus berkembang dari pertama lahir hingga saat ini, bukan yang langsung sempurna di awal peluncurannya.

Ketika mengembangkan Roly Poly Penguin, ada banyak sekali fitur yang kami rasa sangat menarik dan cocok untuk dimasukan ke game tersebut, dari fitur major hingga fitur-fitur kosmetik. Game tersebut pertama digodok sekitar akhir November dan kami berusaha untuk mengejarnya di Januari 2014. Lalu kami melihat bahwa untuk menyelesaikan semua fitur yang kami inginkan, butuh waktu lebih banyak, bahkan bisa jadi baru akan rilis pertengahan tahun. Akhirnya kami mengerucutkan fitur menjadi fitur utama yang ingin ditawarkan oleh game ini terlebih dahulu, baru seiring waktu kami akan terus update fitur-fitur di game tersebut. Kami memutuskan bahwa bagian terpenting dari game ini adalah gameplaynya itu sendiri plus branding karakter pippo. Oleh karena itu, kami fokuskan segala tenaga dan pikiran untuk memastikan fitur utama di gameplay tersebut berjalan dan segera merilisnya.

Penambahan fitur dari hasil feedback user

Penambahan fitur dari hasil feedback user

Akhirnya semua fitur utama sudah siap (dan kami pun agak ngaret dari jadwal sekitar 2 minggu). Setelah itu, Saya berusaha mencari waktu dan even untuk launching yang tepat. Saya sempat berdiskusi dengan mentor untuk waktu yang tepat, sebisa mungkin di Februari harus launching. Berkat bantuan dari Naren dan juga Nokia, Saya diberikan kesempatan untuk launching di tanggal 26 Februari di acaranya segitiga.net di Novotel. Sempat ditawari juga untuk launching bulan Maret sekitar 10 hari lebih lama dari waktu awal, saya berpikir bahwa game ini harus rilis secepatnya. Mengapa harus rilis cepat? Ada dua alasan utama yang membuat saya tidak mau menunda-nunda lagi perilisan tersebut. Yang pertama adalah agar saya dan tim bisa segera belajar dari produk pertama itu ketika di pasar dengan feedback-feedback yang ada lebih cepat dan yang kedua adalah untuk menjaga momentum dan mental tim. Dan akhirnya setelah game tersebut rilis, kami bisa langsung mendengar apa yang diinginkan user, fitur apa yang jalan, fitur apa yang ternyata tidak menarik, dan yang paling penting adalah kami bisa mengetahui fitur apa yang jadinya akan ditambahkan ke game itu dan mana yang batal ditambahkan. Hal ini sangat membantu menghemat cost development karena fitur yang ditambahkan adalah fitur yang benar-benar diinginkan dan dibutuhkan oleh user, bukan fitur yang menurut kita keren. Lalu dari segi internal tim, keberadaan produk tersebut di pasar serta berbagai feedback positif yang masuk membuat semangat kita semakin besar lagi untuk terus mengembangkan game ini.

Terakhir, pesan saya untuk startup/gamedev yang sedang mengembangkan produknya adalah banyak sekali produk gagal karena terlalu lama di dapur. Jangan nilai produk kita hanya dari lidah kita sendiri. Menurut kita bagus belum tentu menurut user bagus. Menurut kita jelek belum tentnu menurut user jelek. Tak ada cara lain untuk mengetahui hal itu selain membiarkan user yang menilainya langsung dengan produk kita di pasar. Mulailah dengan fitur utama dengan scope yang kecil dan fokus, lempar ke pasar, baru perlahan kembangkan fitur-fitur tersebut menjadi lebih baik lagi. Dan yang pasti, tidak ada produk yang lahir sempurna ketika pertama di rilis.

Kampanye Dengan Bukti, Bukan Janji


Karakter fiksi yang mau maju jadi presiden di negara auto pilot

Karakter fiksi yang mau maju jadi presiden di negara auto pilot

Sebentar lagi pemilu akan kita jalani. Di momen-momen seperti inilah sampah visual bertebaran di jalan-jalan. Poster tidak kreatif dengan kata-kata yang hampa terpampang di angkot, di pohon, di tiang, dan di berbagai titik yang memungkinkan untuk dikuasai. Buat saya pribadi, metode seperti ini udah tidak efektif. Saya tidak akan memilih seseorang hanya karena ada mukanya di pohon. Cara kampanye konvesional ini mungkin masih berlaku di banyak belahan daerah di Indonesia, tapi tidak untuk masyarakat yang sudah cerdas.

Menurut saya, metode kampanye paling ampuh adalah dengan bukti. Tunjukan dulu prestasinya di skala besar, baru maju mempimpin satu negara. Saya ambil contoh metode kampanye yang baik contohnya yang dilakukan Pak Anies Baswedan. Sukses membawa gerakan Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi, dan program-program lainnya dengan skala besar, akhirnya punya basis massa dan rekognisi, terbukti kapabilitasnya (walaupun banyak yang menyangsikan karena usianya yg masih muda dan pengalamannya yg belum banyak), baru maju menjadi presiden. Atau seperti Pak Dahlan Iskan yang rajin ngeblog dan menyampaikan pikirannya dibandingkan nongol di tiang listrik atau iklan di media. Atau yang paling mudah adalah tunjukan prestasinya dulu di jabatan yang lebih kecil seperti Pak Jokowi (walaupun sayang belum terbukti berhasil di Jakarta sudah mau nyalon presiden), Pak Ridwan Kamil, dan Bu Risma, buktikan kalau mereka sukses membangun kota menjadi lebih baik, baru naik jadi presiden. Setidaknya metode tersebut memberikan bukti bahwa dia kapabel, bukan sekedar janji. Metode kampanye dengan bukti dan prestasi jauh lebih ampuh dibandingkan janji-janji kosong dari orang yang baru nongol di pohon ato tiang listrik. Saya sendiri agak males ngeliat sampah visual dan sampah audio yang isinya mempromosiin diri tanpa membawa prestasi apa2.

Saya harap aja, di negri auto pilot ini, masyarakat bisa semakin cerdas untuk tidak memilih pemimpin yang lahir di tiang listrik, tapi mampu melihat pemimpin yang memang sudah berkualitas. Semoga masyarakat kita mampu membedakan pemimpin yang bagi-bagi nasi, dengan pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya hingga bisa beli nasi sendiri. Kalau emang pemimpin tiang listrik ini bisa maju jadi presiden, mending negeri ini dipimpin oleh karakter fiktif aja kayak Si Juki yang lagi mau nyalon presiden. Menurut saya gerakan #beraniBeda Si Juki ini adalah sindiran yang menarik untuk menampar politisi yang kampanyenya gak kreatif. (kalau penasaran, cek web nya di sini).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,656 other followers

%d bloggers like this: